Potretnusantara.id, Natuna –Perjuangan seorang ibu pemecah batu di Natuna menyentuh hati. Di tengah debu batu dan terik matahari, seorang janda berusia 52 tahun bernama Syamsinar tetap bekerja keras demi menyambung hidup dan menyekolahkan anak-anaknya.
Dengan hanya menggunakan palu besi sederhana, Syamsinar memecah batu secara manual setiap hari. Tanpa alat berat dan tanpa perlindungan memadai, ia mengandalkan tenaga fisik yang tersisa di usia yang tidak lagi muda.
Upah yang diterimanya pun sangat kecil. Untuk satu kaleng cat ukuran 25 kilogram berisi batu pecah, ia hanya dibayar Rp5 ribu.
Dalam sehari, Syamsinar mampu menyelesaikan sekitar 10 kaleng, sehingga penghasilannya hanya sekitar Rp50 ribu per hari.
“Kalau tidak kerja, anak-anak tidak bisa makan,suami tidak ada lagi” ucapnya .(2/3)
Syamsinar mengaku pekerjaannya sempat terhenti ketika aktivitas pemecah batu dihentikan. Saat itu, ia kehilangan satu-satunya sumber penghasilan.
Sebagai seorang janda, ia harus menanggung sendiri kebutuhan keluarga. Tidak ada pilihan lain selain kembali bekerja keras, meski pekerjaan tersebut menguras tenaga dan penuh risiko.
Baginya, memecah batu bukan sekadar pekerjaan, tetapi perjuangan agar anak-anaknya tetap memiliki masa depan melalui pendidikan.
Pekerja Manual di Tengah Polemik Perizinan
Kisah Syamsinar juga menyoroti sisi kemanusiaan di balik polemik aktivitas batu rakyat yang disebut melanggar aturan karena persoalan perizinan.
Para pekerja seperti dirinya hanyalah buruh harian yang bekerja secara tradisional menggunakan palu, bukan pelaku tambang besar maupun pemilik usaha.
Namun, isu penghentian aktivitas membuat banyak pekerja kecil terancam kehilangan mata pencaharian, memunculkan simpati luas dari masyarakat yang menilai persoalan ini perlu disikapi secara bijak dan manusiawi.
Simbol Perjuangan Rakyat Kecil
Di balik kerasnya batu yang ia pecahkan setiap hari, tersimpan harapan seorang ibu untuk masa depan anak-anaknya.
Setiap ayunan palu Syamsinar menjadi gambaran nyata perjuangan rakyat kecil yang tetap bertahan di tengah keterbatasan hidup.
Kisahnya kini menjadi pengingat bahwa di balik polemik dan aturan, ada kehidupan nyata yang harus terus diperjuangkan.(Kalit)










