POTRETNUSANTARA.ID, NATUNA – Di tengah tantangan ketahanan pangan nasional, Kabupaten Natuna hadir sebagai model percontohan pengelolaan pertanian di wilayah perbatasan terdepan NKRI.
Di bawah kepemimpinan Bupati Natuna, Cen Sui Lan, pemerintah daerah tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga membangun ekosistem pertanian yang berkelanjutan melalui penyaluran pupuk bersubsidi yang tepat sasaran dan perluasan perlindungan sosial bagi petani.
Hingga Juli 2026, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi di Natuna telah mencapai 188,53 ton, mencakup 30,95 ton Urea, 93,35 ton NPK, dan 39,56 ton pupuk organik.
Capaian ini menjadi bukti keseriusan Pemkab Natuna dalam mendukung program ketahanan pangan nasional, terutama di wilayah kepulauan yang memiliki karakteristik geografis unik.
Bupati Cen Sui Lan menegaskan bahwa keberhasilan program pupuk bersubsidi terletak pada akuntabilitas dan ketepatan sasaran.
Ia memerintahkan jajarannya untuk memastikan distribusi hanya menyentuh petani yang terdaftar dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK), dengan pengawasan ketat untuk mencegah kebocoran.
“Saya menegaskan agar penyaluran pupuk bersubsidi benar-benar tepat sasaran. Hanya petani yang telah terdaftar dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) yang berhak menerima bantuan ini. Pengawasan akan terus diperketat bersama aparat terkait agar tidak terjadi penyalahgunaan, penimbunan, maupun kebocoran dalam pendistribusiannya,” tegas Bupati Natuna, Cen Sui Lan.
Terkait petani yang belum terdaftar, Cen Sui Lan meminta agar segera mengurus administrasi melalui kelompok tani.
“Bagi para petani yang belum masuk dalam RDKK, saya minta segera mendaftarkan diri melalui kelompok tani agar dapat memperoleh haknya pada penyaluran berikutnya. Pemerintah Daerah akan terus mendukung para petani agar seluruh program bantuan dapat dirasakan secara merata,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar pupuk bersubsidi dimanfaatkan sesuai peruntukannya.Pupuk bersubsidi ini adalah bantuan pemerintah untuk meningkatkan hasil pertanian. Karena itu, meminta kepada seluruh penerima agar memanfaatkan pupuk tersebut sebaik-baiknya dan tidak menjualnya kembali kepada pihak lain.
Implementasi di lapangan menunjukkan komitmen tersebut. Pada Mei 2026, sebanyak 24,67 ton pupuk bersubsidi berhasil disalurkan langsung kepada 79 kelompok tani di Kecamatan Serasan dan Serasan Timur, memastikan petani di pulau terluar mendapatkan akses yang setara. Langkah ini sejalan dengan arahan Kementerian Pertanian untuk memperkuat ketahanan pangan di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).
Melampaui pendekatan konvensional, Bupati Cen Sui Lan memperkenalkan paradigma baru dalam pemberdayaan petani: perlindungan sosial berbasis risiko kerja. Menyadari bahwa petani adalah tulang punggung ketahanan pangan yang sering kali rentan secara ekonomi, Pemkab Natuna memperluas kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan bagi petani lokal.
Tahun 2026, jumlah penerima manfaat meningkat menjadi 257 petani di sembilan kecamatan, dengan jaminan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM).
Program ini menjadikan Natuna sebagai salah satu daerah pionir dalam mengintegrasikan perlindungan sosial ke dalam sektor pertanian, selaras dengan agenda nasional “Petani Sejahtera, Indonesia Kuat”.
“Ketahanan pangan tidak akan tercapai jika pelakunya tidak sejahtera dan terlindungi. Dengan BPJS Ketenagakerjaan, kami ingin mengirim pesan jelas: negara hadir untuk melindungi pahlawan pangan kita, bahkan di wilayah paling terpencil sekalipun,” ujar Bupati Cen Sui Lan.
Sinergi antara penyediaan sarana produksi dan perlindungan sosial merupakan strategi holistik yang diusung Bupati Cen Sui Lan. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga mengangkat martabat petani sebagai profesi yang bermartabat dan terlindungi.
Di saat isu ketahanan pangan menjadi prioritas nasional, Natuna menawarkan pelajaran berharga: bahwa daerah perbatasan mampu mengelola program strategis dengan presisi, inovasi, dan keberpihakan pada rakyat kecil.
Keberhasilan ini menjadi referensi penting bagi daerah lain dalam mewujudkan ketahanan pangan yang inklusif dan berkelanjutan.
Dengan kepemimpinan yang visioner dan eksekusi yang berorientasi pada hasil, Bupati Cen Sui Lan membuktikan bahwa Natuna bukan hanya simbol kedaulatan NKRI, tetapi juga laboratorium hidup bagi ketahanan pangan nasional yang tangguh dan manusiawi.(Kalit)









