OPINI, Potretnusanyara.id-Setiap tahun, gema takbir berkumandang menandai tibanya . Ia hadir sebagai puncak spiritual setelah sebulan penuh umat Islam menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Namun, di tengah gegap gempita perayaan yang semakin meriah, muncul pertanyaan yang mengusik: apakah kita masih memahami makna sejati Idul Fitri, atau justru perlahan kehilangannya?
Idul Fitri sejatinya bukan sekadar momentum seremonial. Ia adalah titik kembali. Kembali kepada kesucian, kepada kejujuran diri, dan kepada relasi sosial yang lebih bersih dari prasangka dan kebencian. Akan tetapi, realitas hari ini menunjukkan pergeseran yang cukup mencolok. Tradisi silaturahmi mulai tergantikan oleh formalitas, sementara permohonan maaf kerap menjadi basa-basi yang kehilangan kedalaman makna.
Fenomena konsumtif juga kian mendominasi wajah Idul Fitri. Pusat perbelanjaan penuh sesak, diskon besar-besaran menjadi daya tarik utama, dan ukuran kebahagiaan sering kali diukur dari seberapa baru pakaian yang dikenakan atau seberapa mewah hidangan yang disajikan. Padahal, esensi kemenangan dalam Idul Fitri tidak pernah diukur dari aspek material, melainkan dari keberhasilan menundukkan ego dan memperbaiki diri.
Lebih memprihatinkan lagi, semangat empati sosial yang seharusnya menguat justru kerap melemah. Di saat sebagian orang merayakan dengan kemewahan, tidak sedikit yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Idul Fitri seharusnya menjadi momentum memperkecil jurang ketimpangan, bukan malah mempertegasnya. Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi wujud nyata solidaritas sosial yang sering kali tereduksi menjadi formalitas tahunan.
Di sisi lain, ruang digital turut memengaruhi cara kita memaknai hari raya. Ucapan maaf massal yang disalin dan disebar tanpa sentuhan personal menjadi hal lumrah. Interaksi yang seharusnya hangat dan tulus bergeser menjadi cepat dan instan. Keintiman relasi perlahan tergantikan oleh efisiensi komunikasi.
Tentu, perubahan zaman tidak bisa dihindari. Namun, kehilangan makna adalah pilihan yang seharusnya bisa kita cegah. Idul Fitri bukan hanya tentang kembali ke “fitri” secara simbolik, tetapi tentang komitmen berkelanjutan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih jujur, lebih peduli, dan lebih rendah hati.
Sudah saatnya kita merefleksikan kembali esensi Idul Fitri. Bukan untuk menolak modernitas, melainkan untuk menempatkannya secara proporsional. Perayaan boleh meriah, tetapi makna tidak boleh hilang. Tradisi boleh berkembang, tetapi nilai tidak boleh luntur.
Jika Idul Fitri hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa perubahan berarti dalam sikap dan perilaku, maka sejatinya kita sedang merayakan sesuatu yang kosong. Kemenangan yang seharusnya diraih justru menjadi ilusi. Dan pada titik itulah, keprihatinan ini menemukan relevansinya: bahwa yang hilang bukanlah perayaannya, melainkan ruh dari Idul Fitri itu sendiri.
Oleh : Andi Miftahul Farid, M. Ec. Dev










