Potretnusantara.id | Natuna – Dalam rangka memastikan kesiapan dan keselamatan operasional, Kepala SPPG MBG, Shintia Dwi Oktavianti, S.Tr.Gz, menggandeng Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Natuna untuk memberikan pembekalan kepada para relawan MBG Yayasan Kemala Bhayangkari, yang berlokasi di Jalan Teluk, Desa Limau Manis, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan sebelum MBG resmi diaktifkan, dengan fokus utama pada antisipasi kebakaran serta keselamatan kerja di lingkungan dapur dan operasional MBG.
Dalam pembekalan tersebut, Damkar Natuna memberikan materi penting terkait penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) atau yang kerap disebut racun api.
Para relawan dibekali pemahaman mengenai jenis-jenis APAR, fungsi masing-masing, serta cara penggunaan yang benar dan aman saat terjadi kebakaran awal.
Shintia Dwi Oktavianti menjelaskan bahwa APAR menjadi perlengkapan vital yang wajib dipahami oleh seluruh relawan, mengingat aktivitas MBG bersinggungan langsung dengan dapur, peralatan listrik, dan bahan mudah terbakar.
“APAR ini bukan sekadar alat pelengkap, tetapi alat penyelamat. Relawan harus tahu kapan dan bagaimana menggunakannya dengan benar agar api tidak meluas,” jelasnya.(17/1)
Selain itu, sebelum MBG dioperasikan secara penuh, pihaknya menegaskan akan terus memberikan pembekalan materi keselamatan dan kesiapsiagaan, sebagai bentuk komitmen menciptakan lingkungan kerja yang aman dan profesional.
Tidak hanya soal pemadaman api, dalam kegiatan ini para relawan juga diajarkan tata cara penyelamatan diri dan orang lain apabila terjadi kecelakaan atau kondisi darurat di area MBG. Mulai dari langkah evakuasi, penanganan awal, hingga prosedur pelaporan keadaan darurat.
“Kami ingin memastikan seluruh relawan siap secara pengetahuan dan mental. Keselamatan adalah prioritas utama sebelum pelayanan kepada masyarakat dijalankan,” tambah Shintia.
Salah seorang relawan MBG Yayasan Kemala Bhayangkari menyampaikan bahwa penggunaan APAR harus benar-benar disesuaikan dengan jenis sumber api agar tidak menimbulkan bahaya baru.
“APAR itu tidak bisa digunakan sembarangan. Untuk kebakaran yang bersumber dari kompor atau minyak, ada APAR khusus. Begitu juga untuk kebakaran listrik, harus memakai APAR jenis tertentu yang aman dan tidak menghantarkan arus. Kalau salah menggunakan, justru bisa membahayakan diri sendiri,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa untuk kebakaran bahan padat seperti kayu, kertas, atau sampah tersedia jenis APAR berbeda yang cara kerjanya menutup sumber api dan menurunkan suhu panas.
Menurutnya, Damkar Natuna juga menekankan bahwa isi APAR mengandung bahan kimia bertekanan tinggi yang jika digunakan tidak sesuai prosedur, dapat berdampak buruk bagi kesehatan, seperti iritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit.
“Makanya kami diajarkan bukan hanya cara menyemprotkan, tapi juga posisi aman saat menggunakan APAR, jarak yang tepat, serta arah semprotan. Bahkan APAR pun harus dirawat dan dicek secara berkala agar tetap layak pakai dan tidak membahayakan,” tambah relawan tersebut.
Pembekalan ini dinilai sangat penting agar relawan tidak panik dan dapat mengambil tindakan yang tepat saat menghadapi kebakaran awal, sekaligus memahami bahwa keselamatan diri tetap menjadi prioritas utama dalam setiap kondisi darurat.
Kolaborasi antara SPPG MBG dan Damkar Natuna ini mendapat apresiasi karena dinilai sebagai langkah preventif yang sangat penting, sekaligus mencerminkan keseriusan pengelola MBG dalam menjamin keamanan relawan dan keberlangsungan program.
Dengan pembekalan ini, diharapkan relawan MBG mampu bertindak cepat, tepat, dan tenang dalam menghadapi situasi darurat, sehingga potensi risiko kebakaran maupun kecelakaan kerja dapat diminimalisir sejak dini.(Kalit)










