ACEHSINGKIL, Potretnusantara.id – Warga Teluk Nibung, Kecamatan Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil murka dan tidak terima Jenazahnya anaknya bernama Restu Permatasari (29) direkayasa meninggal karena Covid-19 dan dirasa mengandung fitnah keji.
“Saya tidak tidak Terima dan mengecam oknum yang diam-diam mendokumentasikan rekayasa menyatakan anak saya dikubur secara protokol Covid-19 menggunakan baju astronot (APD), ini fitnah yang keji sekali,” Kata Bustami Ayah dari Restu Permatasari kepada potret nusantara melalui telepon selulernya. Kamis (14/10/2021).
Sehingga Bustami menuding oknum yang berpakaian Astronot yang mendokumentasikan di pemakaman umum anaknya seolah-olah meninggal teridap COVID-19 dinilai mendzolimi karena peti jenazah juga diam-diam dibawa ke pemakaman umum tanpa konfirmasi pihak keluarga.
Dia meminta penegak hukum untuk mengusut perlakuan oknum-oknum aparatur kampung dan oknum muspika lainnya, karena menurutnya demi keuntungan oknum-oknum tersebut tega menebar fitnah keji seolah-olah jenazah anaknya meninggal dunia yang sengaja dia bawa dari Banda Aceh untuk dikebumikan dikampung halamannya.
Bustami menceritakan, kronogis jenazah anaknya Restu Permatasari dia bawa dari Rumah sakit Banda Aceh yang meninggal dunia diterima pihak keluarga, sejak Sabtu (9/10/2021) siang.
Restu merupakan warga asal kelahiran Desa Teluk Nibung, Kecamatan Pulau Banyak yang sebelumnya bekerja sebagai tenaga kesehatan di Puskesmas Aceh Besar, Provinsi Aceh.
Ia sebelumnya merupakan tenaga kesehatan di RSUD Aceh Singkil, pindah tugas ke Aceh Besar lantaran ikut sang suami yang juga bertugas di Pusat Kesehatan Angkatan Darat (Kesdam) Aceh.
Bustami selaku orang tuanya menyebut, anaknya tersebut sebelumnya sakit paru-paru. Ia dirawat di Puskesmas tempatnya bekerja, penyakitnya semakin menjadi dia lalu dirujuk ke rumah sakit Kesdam Banda Aceh.
“Selama beberapa hari dirawat di rumah sakit Kesdam, anak saya Restu Permata Sari dinyatakan positif terpapar Covid-19,”ujarnya.
Sebelas hari dirawat jadi pasien dirumah sakit Kesdam, Reatu belum ada tanda-tanda sembuh akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Zainoel Abidin Banda Aceh.
“Selama dirawat dirumah sakit Kesdam dan RSZA itu perawatannya terhitung selama tujuh belas hari, dan lengkap dalam catatan administrasi, “jelasnya.
Kata dokter melalui sang suami yang bernama Odi, dua hari sebelum istrinya meninggal dunia statusnya negatif Covid-19.
“Anak kita meninggal pada hari Jumat pekan lalu, yakni 8 Oktober 2021 sekitar pukul 11.30 Wib,”tuturnya.
Selaku orang tua, Buztami mengusulkan kepada menantunya agar menyampaikan kepihak rumah sakit agar jenazah anaknya Restu akan dimakamkan di kampung halamannya di Pulau Banyak.
“Tolong disiapkan secara fardhu Kifayah pemandian dan pengafannannya di rumah sakit terkait. Bahkan ada tiga ustadzah yang menyelesaikan pekerjaan memandikan dan mengkafankan,”tukasnya.
Lantaran jarak antara Banda Aceh ke Pulau Banyak jauh, jenazah kemudian dimasukan ke dalam peti.
“Kemudian dibawa jenazah tadi menggunakan ambulan menuju Pulau Banyak. Dua Petugas ambulan yang mendampingi tidak memakai baju astronot dan sarung tangan, hanya masker dan memakai pakaian prokes,”sebutnya.
Sesampainya di Singkil pada kesokan harinya Sabtu sekitar pukul 10.00 WIB berganti kendaraan speedboat yang telah disiapkan oleh pihak keluarga.
“Saat menaikan jenazah dari ambulan ke speedboat, keluarga kami tidak memakai masker begitu juga tentara yang berada dilokasi,”ungkapnya.
Namun Bustami merasa terkejut ketika tiba di Teluk Nibung Pulau Banyak, jenazah disambut oleh orang-orang berpakaian astronot.
Kemudian jenazah dibawa kerumah duka. Setelah sanak famili melepas rindu, melihat muka dan menciumnya. Jenazah selanjutnya dibawa menggunakan keranda untuk dishalatkan di masjid untuk selanjutnya dikuburkan ke TPU (tempat pemakaman umum) setempat.
Peti yang sebelumnya digunakan untuk membawa jenazah tadi, ternyata sudah dibawa ke TPU oleh orang yang berpakaian astronot.
“Kemudian mereka mendokumentasikan seolah-olah sedang melakukan pemakaman jenazah Covid sesuai protokol tetap (Protap) Covid-19. Siapa yang mengkondisikan seperti itu kami tidak tau,” ujarnya.
Bustami tidak mengetahui siapa orang yang berpakaian astronot tersebut berasal dari mana, apakah dari desa atau puskesmas setempat namun yang pasti Sekdes terkait ikut terlibat.
Padahal diwaktu yang sama, pihak keluarga sedang menshalatkan jenazah di masjid setempat.
Namun belakangan keluarga baru-baru ini mengetahui kalau foto-foto pemakaman jenazah yang dilakukan oleh orang berpakaian astronot dishare di internet.
Bustami beserta keluarga tidak terima atas tindakan oknum yang memanfaatkan situasi yang menimpa keluarganya tersebut.
“Pihak keluarga besarnya merasa difitnah lantaran rekayasa dan mengada-ada penguburan anak kami seolah-olah meninggal akibat Covid-19 orang-orang pada enggan menjenguk kerumah duka,” ujarnya.
Ia menuding ada pihak yang tidak bertanggung jawab merekayasa seolah-olah anaknya meninggal dalam keadaan terpapar Covid-19 demi keuntungan.
“Ini menjadi hal buruk pada keluarga kam8i, kami tidak terima atas tindakan oknum yang tidak bertanggung jawab itu,” tukas Bustami.
Padahal hasil dari RSZA melalui surat keterangan yang diterima pihak keluarga bahwa jenazah meninggal dikarenakan sakit paru-paru.
Mardin










