ROHUL, Potretnusantara.id-Persoalan masalah penetapan sanksi administrasi bagi pelaku penimbun BBM di Rokan Hulu kian “kabur”. Persoalan ini seolah memiliki megic yang kuat hingga persoalannya bisa menjadi redup dan hilang dari pandangan.
Bagaimana tidak, begitu banyak pergerakan bahkan pelaksanaan demo dilakukan berbagai elemen namun persoalannya bukannya semakin terang namun semakin hilang dari permukaan.
Kini masyarakat kecil sangat berharap agar pihak Polda Riau turut peduli dan menjadikan persoalan ini menjadi skala prioritas, sehingga kedepan masyarakat tidak apatis terhadap kinerja Polisi yang dianggap tebang pilih dalam pelaksanaan penegakan hukum.
“Ada apa dengan semua ini, sudah jelas-jelas berita terkait penimbunan itu viral selama tiga bulan terakhir, sehingga masyarakat saat ini menjadi bingung atas ketegasan hukum, seolah pihak kepolisian khususnya Polda Riau belum memberikan tindakan nyata sampai detik ini, para mafia BBM masih bebas melakukan prakteknya”,keluh masyarakat (M) yang enggan disebutkan namanya di media. Jum’at (11/6)
Dia mengakui penimbunan BBM di Rohul sudah bukan rahasia lagi, seolah para pelaku boleh bebas pesan BBM ke pihak Pertamina di Dumai, ironisnya kepolisian terkesan kelabui publik. Praktek para mafia BBM sangat nyata di negeri seribu suluk ini.
“Seperti BBM jenis premium yang katanya sudah di hapus dan pertamax termasuk barang langka didapatkan dari SPBU, tetapi malah banyak ditemui pada pengecer, bagaimana mungkin ini bisa terjadi, seakan Penegak hukum tidak mau tahu masalah yang dialami masyarakat terkait kelangkaan BBM pada SPBU yang ada di Negeri seribu suluk ini,”tambahnya.
Terkait harapan masyarakat tersebut, saat dilakukan konfirmasi ke Kapolda Riau, Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi, Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto dan Kapolres Rohul, AKBP Taufik Lukman Nurhidayat melalui seluler dan WAnya hingga berita ini diterbitkan belum mendapat jawaban.
Diberitakan sebelumnya, awal pengamanan belasan baby tank dan puluhan jerigen premium oleh Polres sebagai barang bukti sekira tiga bulan yang lalu, sontak penemuan ini menjadi perbincangan hangat di Rohul.
Kepolisian Rohul saat itu hanya menerangkan bahwa pemilik BBM bernama Pi sebagai pelaku penimbun yang tidak lain adalah pengelola ataupun manejer di SPBU Talikumain dan atas persoalan ini pelaku dikenai sanksi administratif.
“Kita ketahui pemilik SPBU Talikumain adalah oknum anggota DPRD di ROHUL, kuat dugaan Pendi order BBM menggunakan izin SPBU itu, ada apa dengan pihak kepolisian yang tidak memeriksa pemilik SPBU, atau POLRI PRESISI hanya isapan jempol saja”,paparnya.
Ditempat lain, SPBU Talikumain diduga bermain dalam meteran minyak, hal ini diketahui dari R (red) salah satu konsumen yang saat itu mengakui adanya kejanggalan dalam mengisi BBM di SPBU tersebut.
“Saya tadi membeli petralite untuk honda verza saya bang, ukuran tanki kalau kosong total 12,21 liter, kan tidak mungkin tanki saya kosong total bang, karena saya ke SPBU keadaan mesin masih hidup, artinya masih ada minyak didalam tanki, ternyata saat di isi full tanki saya menjadi 13 liter lebih, sehingga saya bayar pas 100 ribu,” kata R merasa ada yang aneh dalam pengisian BBM di SPBU Talikumain. Kamis (10/6)
Menanggapi keluhan tersebut Potretnusantara.id mencoba melakukan konfirmasi kepada mandor SPBU Talikumain dan mengatakan SPBU akurat meter serta selalu di uji metrologi tiap tahun.
“Semua pompa tiap tahun di uji metrologi dari dinas, kalau tidak salah bulan Januari atau bulan Desember itu Pak, mengenai ukuran tanki honda verza 12,21 liter dan saat di isi di SPBU menjadi 13 lebih, saya kurang tahu Pak,” ujar Ilham lubis mandor SPBU Talikumain yang saat itu sedang piket.
Saat ditanyakan mengenai premium, Ilham mengaku sudah di hapuskan mulai 1 Mei 2021, saat ditanyakan apakah konsumen keluhkan keberadaan premium yang sudah di hapus Ilham menjawab, tidak ada yang komplin namun ia mengakui konsumen malah banyak pertanyakan Pertamax sudah jarang masuk ke SPBU tempatnya bekerja.
“Tidak ada masyarakat yang komplin Pak, mereka biasa saja, tetapi masyarakat lebih senang memakai Pertamax, dan barang itu jarang masuk, saya kurang tahu apa penyebabnya, kalau sudah berapa lama tidak masuk yang jelas untuk disini sudah sangat lama Pak”, terang Ilham Lubis.
Mandor SPBU Talikumain ini juga merasa heran saat Potretnusantara.id pertanyakan bagaimana bisa premium yang sudah dihapus dan pertamax yang langka ditemui di SPBU tetapi malah banyak ditemukan pada penjual eceran
“Saya heran dari mana mereka (pengecer) dapatkan premium yang sudah dihapus itu dan pertamax yang langka di SPBU malah banyak ditemukan dikalangan pengecer di pinggir jalan, kami yang berizin malah sudah lama tidak masuk, tetapi tidak menutup kemungkinan pengecer membelinya dari SPBU di Batang Kumu Pak,” terang Ilham Lubis mandor SPBU Talikumain kepada Potretnusantara.id.
Robert Nainggolan










