TAJUKRENCANA-Menarik, hampir dua bulan ini mulai dari bulan Pebruari hingg bulan Maret Gas LPG ukuran 3 KG menjadi perbincangan hangat di Kabupaten Karimun khususnya di Pulau Besar Karimun, bukan karena keberuntungan tetapi karena dianggap langka karena sulit ditemukan keberadaannya.
Persoalan ini semakin memuncak kala ramai di diposting di berbagai media sosial, hampir disetiap sudut Pulau Karimun besar mengeluhkan akan sulitnya mendapatkan LPG 3 kilogram tersebut. Media sosial terus mengupdate perkembangan terkini, bahkan ketika gas tersebut masuk tidak sampai hitungan jam dipastikan langsung habis.
Masyarakat mulai rajin mengintip status media sosial hanya untuk mengetahui didaerah mana saja keberadaan gas 3 kilogram masuk, namun tidak sedikit juga yang apes, karena begitu mendapat informasi dari media sosial masyarakat langsung menuju lokasi tetapi malang keberuntungan belum memihak karena gas sudah habis.
Kondisi inilah yang terjadi di Pulau Karimun besar hingga saat ini, pemerintah mulai bergerak dan mencoba memanggil pihak agen dan pangkalan. Tidak tanggung-tanggung, saat ini pihak kepolisian mulai dilibatkan untuk mengatasi kelangkaan ini.
Pemerintah juga mulai melakukan beberapa soslusi walapun dianggap sebagian besar masyarakat tidak masuk akal, bagaimana tidak dalam surat edarannya pemerintah menegaskan bahwa penggunaan gas 3 kilogram hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang memiliki penghasilan dibawah 2juta rupiah perbulan.
Kabupaten Karimun, sejak minyak tanah dikonversi ke gas tahun 2016 silam belum pernah terjadi kedulitan seperti saat ini. Ada yang menarik dari persaolan kelangkaan ini. Pertama, adanya kemungkinan stok tabung para agen tidak ada lagi, logikanya jika agen memiliki 7.000 tabung namun pada saat pangkalan menjadi anggota tabung agen tersebut akan menjualkan tabung kepangkalan dengan demikian stoknya otomatis berkurang. Lebih jelasnya jika Agen memliki 7000 tabung, kemudian dibawahnya memiliki 60 pangkalan. Satu pangkalan memiliki 100 tabung, maka 100 x 60 pangkalan = 6000tabung – 7000 stok agen = 1000tabung. Artinya agen tidak stoc tabungnya jadi berkurang, dengan demikian jika melakukan pemesanan pengisian harus meminjam milik pangkalan dulu dan tentu ini menghambat normalnya distribusi.
Kedua, kelangkaan ini terjadi apakah memang karena penggunanya meningkat atau memang gasnya yang tidak rutin masuk. Kita bahas masalah masuknya gas di Karimun, kita ambil penelitian dari para Pangkalan. Pangkalan sejak satu tahun belakangan masuknya gas tidak menentu, satu pangkalan sering dapat pasokan satu kali dalan tiga minggu dan itupun tidak pernah seluruh pangkalan mendapat pasokan gas secara bersama, artinya kuat dugaan bahwa pemasokan gas digilir dan ini menimbulkan kekosongan pada wilayah wilayah tertentu.
Artinya, sangat wajar masyarakat kelimpungan mencari keberadaan gas karena tidak ada. Yang perlu digaris bawahi, gas sebenarnya tidak langka hanya saja agen tidak melakukan pemasokan secara normal ke setiap pangkala. Jika Agen melakukan pemasokan secara normal tentu tidak terjadi seperti saat ini. Langka artinya benda tersebut sulit ditemukan, sementara gas 3 kilogram bukan sulit hanya saja Agen tidak melakukan pengangkutan secara merata padahal stok gas di Tanjung Uban tidak pernah kosong.
Dengan fonomena ini, masyarakat sangat berharap Pemerintah Daerah melalui Dinas-dinas terkait untuk membantu para pihak agen jika mengalami kesulitan dalam proses pengangkutan. Dinas semestinya tidak perlu mengkambing hitamkan para Pangkalan yang selama ini telah mendistribusikan panjualan gas ke masyarakat.
Berikan kemudahan, berikan perlindungan kepada para agen dalam setiap proses pengangkutan mulai dari pengisian di Tanjung Uban, selama perjalan ke Karimun dan memberikan kemudahan bongkar-muat di setiap pelabuhan se Kabupaten Karimun, dengan demikian niscaya persoalan ini akan berjalan dengan baik.
Janganlah bekerja ketika timbul masalah, tetapi bekerjalah dengan baik agar tidak timbul masalah…
potretnusantara.










