Opini, Potretnusantara.id – Masyarakat Pulau besar Karimun, Propinsi Kepulauan Riau pagi ini Sabtu 25 Juni 2022 menjerit. Kehidupannya terusik akan kehadiran air bah yang bersilaturahmi di pagi hari. Kehadiran mereka (banjir) berhasil membuat hati masyarakat bersedih.
Setiap postingan media sosial, baik itu group WA, FB atau IG di hiasi cerita banjir, masyarakat seolah memperlombakan yang dialaminya yang ia sadari pastinya tidak akan mendapatkan hadiah apa apa.
Kini masyarakat tidak tahu harus berbuat apa, keluhan mereka tidak tahu harus dititipkan pada siapa. Berharap hanya mujizat.
Andaikan banjir datang saat kampanye pemilihan Presiden, DPR, Gubernur dan Bupati pasti ceritanya akan berbeda. Banjir pasti cepat surut karena dipastikan ratusan calon akan berlomba lomba membantu masyarat untuk mengeringkan banjir dan yang pasti akan nyaring berteriak lantang “memaki” para pengambil kebijakan.
Namun memang mereka para tukang kampanye saat ini terselamatkan, karena kita tahu, tahun 2024 itu masih lama kawan.
Andaikan ini masa pemilu, masyarakat tidak meminta pun dia pasti akan datang menawarkan jasa dan yang pasti memberikan janji untuk dilupakan.
“Assalamualaikum Bapak ibu pemimpin dan perwakilan yang terhormat .ini bukan fenomena yang baru .tapi sudah menjadi masalah yang sudah sangat lah lama dan Krusial yang di jadikan prioritas dalam segala hal pada saat Musrenbang disegala tingkatan .Semoga Anda Anda Bisa Peka dengan Fenomena ini dan dijadikan sebagai pengingat apa yang kalian Janjikan Kepada Masyarakat,” #SaveKarimunBanjir tulisan Adrison di FB mengingatkan para pemimpin negeri ini.
Tulisan tersebut merupakan salah satu keluhan dari ratusan tulisan di media sosial, masyarakat saat ini mengharapkan adanya tindakan nyata agar persoalan banjir dapat teratasi. Sudah sepantasnya kedepan persoalan ini menjadi program pembangunan prioritas agar mimpi buruk tentang banjir tidak lagi menghantui masyarakat.
redaksi










