Aceh Singkil, Potretnusantara.id-Sudah hampir dua dekade berlalu sejak warga Desa Tanjung Betik direlokasi akibat banjir dan gempa besar yang melanda bantaran Sungai Lae Cinendang pada awal 2000-an.
Namun hingga kini, desa kecil yang terletak di Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil ini masih terjebak dalam janji-janji pembangunan yang belum ditepati.
Jalan utama menuju desa sepanjang 350 meter hingga kini belum juga diaspal. Padahal akses ini merupakan satu-satunya jalur penghubung warga ke jalan lintas utama Singkil–Subulussalam.
“Kalau musim hujan, jalan jadi becek dan sulit dilalui. Padahal ini bukan permintaan yang muluk. Hanya 350 meter. Kami berharap pemerintah kabupaten tidak tutup mata,” ungkap Amsar, Geuchik Tanjung Betik, saat ditemui di kantornya pada Selasa 16 September 2025.
Desa Tanjung Betik dihuni oleh sekitar 75 kepala keluarga, mayoritas bekerja sebagai petani dan pekebun. Mereka direlokasi ke lokasi saat ini pada tahun 2006 dan menempati rumah bantuan dari Badan Reintegrasi Aceh (BRR). Namun, setelah hampir 20 tahun, infrastruktur dasar seperti jalan dan saluran air masih jauh dari layak.
Lebih dari sekadar akses jalan, persoalan legalitas tanah juga menjadi ganjalan besar. Hingga kini, warga belum menerima sertifikat atas lahan yang telah mereka tempati selama hampir dua dekade.
“Dari awal kami dijanjikan surat tanah akan diurus pemerintah. Tapi kenyataannya sampai sekarang tidak jelas. Kami ingin ada kepastian hukum. Ini penting untuk masa depan anak cucu kami,” tambah Amsar.
Kondisi ini membuat warga merasa terpinggirkan. Di tengah gencarnya pembangunan di berbagai daerah, mereka berharap pemerintah tak melupakan desa-desa kecil yang juga merupakan bagian dari republik ini.
“Jangan tunggu kami bersuara lebih keras. Kami tidak menuntut kemewahan, hanya hak dasar sebagai warga negara,” tegas Amsar.
Mardin










