ASAHAN, Potretnusantara.id- Sebatang tunggul pohon kayu yang diperkirakan berusia ratusan tahun dengan ukuran bagian bawah lebar dua meter dan tinggi dua setengah meter berdiri kokoh di persimpangan jalan anatara AFD III kebun PTPN IV Pulu Raja Desa Tunggul 45 dengan Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), Kecamatan Pulau Rakyat, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara.
Simpang yang dikenal dengan Simpang Tunggul itu konon katanya Tunggul itu dipercayai sebagai salah satu tempat yang dianggap keramat oleh sejumlah orang, sebagai tempat singgasana makhluk gaib yang menguasai tempat itu.
Menurut cerita dari mulut ke mulut Simpang Tunggul yang menjadi ikon sejarah di Desa Tunggul 45 itu dulunya merupakan Tunggul biasa, ketika dilakukan pelebaran jalan dipindahkan ke tempat lain dengan menggunakan alat berat buldozer. Tetapi aneh bin ajaib esok harinya Tugul yang sudah dipindahkan itu kembali ke posisi semula. Malah katanya, orang pintar yang memberi gagasan memindahkan batang pohon tersebut jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia.
Tunggul itu juga menjadi saksi bisu para pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia, dimana Tunggul yang dulunya pohon kayu raja yang dijadikan tempat persinggahan para pejuang untuk meletakkan sandi (tanda) batu di kaki pohon dengan jumlah tertentu sebagai petunjuk arah para pejuang bergerilya.
Mitos itulah yang membuat inpirasi Masdi semasa menjabat Kepala Desa Tunggul 45 membangunkan rumah Tunggul mirip joglo berukuran 2,5 meter, beratap seng dan lantai keramik tanpa dinding. Hal ini bertujuan untuk melestarikan situs sejarah perjuangan kemerdekaan agar ketahui oleh generasi muda bahwa, disamping itu rumah Tunggul itu juga dijadikan tempat untuk istirahat atau halte tempat penungguan bus umum.



Pengamatan wartawan media ini, Jumat (13/9/24) didekat Tugu luar joglo terdapat dua prasasti, satunya bertulis “TUNGGUL 45, Tunggul ini adalah saksi sejarah perjuangan dalam merebut kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. Disinilah para pejuang kemerdekaan saat bergerilya dari berbagai sektor meletakkan sandi (tanda) sebagai pusat informasi perjuangan. Tunggul ini hingga pemugaran berusia lebih kurang 300 tahun. Dipugar tahun 2009 oleh Kepala Desa Tunggul 45 ke-5 Masa Bakti 2000-2005/2006-2011”.
Sedangkan prasasti satunya lagi berlogo Rambate Rata Raya Pemkab Asahan, bertulis “Struktur Tunggul Perjuangan 45 Dinas Pendidikan Kabupaten Asahan. Dilokasi ini pernah berlangsung peristiwa perjuangan kemerdekaan. Disini Pejuang Kemerdekaan bergerilya dari berbagai sektor”
Cerita mistis lain tentang Tunggul yang menjadi ikon Desa Tunggul 45 ini dulunya ketika akan dilakukan pelebaran jalan lintas Sumatera pernah dipindahkan ke tempat lain dengan menggunakan alat berat buldozer. Tetapi aneh bin ajaib esok harinya Tugul yang sudah dipindahkan itu posisi kembali seperti semula. Malah katanya, orang pintar yang memberi gagasan memindahkan batang pohon tersebut jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia.
“Di tempat yang sama terdapat dua persi prasasti Tunggul, satu dibuat oleh Kepala Desa Tunggul 45 terdahulu yaitu bapak Masdi dan satunya oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Asahan yang dibuat baru-baru ini”, kata Edi Sunarto Kepala Desa Tunggul 45 saat dihubungkan wartawan media ini via hand phone, Jumat (13/9/24).
Edi Sunarto menambahkan, Tunggul yang berada kawasan HGU PTPN IV Pulu Raja Desa Tunggul 45 itu dulunya sering dikunjungi orang yang berasal dari luar desanya, karena dipercayai sebahagian orang sebagai tempat mencari keberuntungan.
“Dulu sering ada aneka bunga yang ditabur di kaki Tunggul, tapi tidak tahu kapan datangnya dan apa tujuan orang itu,” kata Kades.
Menurut Edi Sunarto kawasan Simpang Tunggul ini terkenal angker karena sering terjadi kecelakaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia.
“Saya menghimbau agar berhati-hati saat melintasi Jalinsum kawasan Simpang Tunggul ini, bila perlu bunyikan klakson siapa tahu ada mahluk gaib yang sedang melintas agar menghindar,” pungkasnya.
Paimin










