LHOKSEUMAWE, Potretnusantara.id-Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) Uteun Bayi, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe akhir-akhir ini menjadi sorotan warga setempat.
Pasalnya usaha gampong tersebut yang membeli alat pemecah batu (Crusher) hampir dua tahun ini tidak berfungsi sama sekali bahkan diduga mati total.
Menurut sumber media ini usaha tersebut terkesan mubazir dan tak ada manfaat sama sekali. Lagi pula alat itu tidak murah dan masih banyak usaha lain yang berpotensi dan bermanfaat, selasa (10/8/2020).
“Atas masalah tersebut ia berharap agar persoalan ini dapat diatasi oleh aparatur Gampong Uteun Bayi untuk mencari solusi bagaimana tindak lanjut untuk mempertahankan usaha tersebut agar lebih menguntungkan gampong,”kata salah satu sumber.
Mendapat informasi tersebut, pewarta mencoba melihat langsung ke lokasi untuk melihat dan memastikan kebenaran hal tersebut. Pantauan di lapangan terlihat semak belukar mulai memenuhi area pemecah batu seperti benda tak bertuan menampakkan bahwa alat ini lama tak difungsikan.
Saini salah satu warga setempat mengungkapkan, Kilang tersebut sudah sekitar 1 tahun terbengkalai, ia tidak pasti mengapa Kilang tersebut berhenti beroprasi karena ia hanya menjaga kilang tersebut namun sesekali ia ikut bekerja.
“Tidak tau pasti mengapa terhenti, saya hanya menjaga area ini saya hanya sesekali ikut kerja, kalo soal berhenti beroprasi mungkin kurang lebih satu tahunan lah,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan terhentinya kegiatan Kilang tersebut karena pengerjaanya masih manual hingga mengakibatkan Pekerja kewalahan dan sudah meminta pihak desa agar mengupayakan pengadaan Excavator Mini untuk memudahkan pekerjaan mereka.”jelasnya.
Di waktu terpisah Keuchik Gampong Uteun Bayi saat dikonfirmasi via telpon mengarahkan pewarta untuk mengkonfirmasi langsung ke sekretaris desa.
Sekdes saat dikonfirmasi membantah pernyataan masyarakat yang menuding bahwa Kilang Batu tersebut terbengkalai, tapi untuk sementara operasinya terhenti.
Ia mengungkapkan kilang tersebut terhenti karena sarana pendukung tidak cukup untuk untuk proses pengoprasian karena kilang tersebut pengerjaanya masih manual.”ungkapnya
“Bukan terbengkalai tapi terhenti sementara waktu karena Proses muat batu masih manual”. “Sekurang-kurangnya pakai Beko Mini lah, ga sanggup selalu pakai tangan”.
Ia juga menambahkan hasil dari kilang sudah ada dan tiap tahun dimasukkan ke PAD (Pendapatan Desa).
“Ada kok, semua hasilnya sudah kami masukkan ke PAD tiap tahunnya, kecuali rugi dan tidak ada hasil baru bisa dibilang terbengkalai,”tutupnya
ahmad










