KARIMUN, Potretnusantara.id-Aslizar salah satu warga RW 04, Teluk Lekup, Kecamatan Tebing, Kabupaten Karimun bersama puluhan warga lainnya mulai merasa resah dengan dampak pembukaan perluasan tambang granit quarry baru oleh PT Wira Penta Kencana (WPK). Pembukaan quarry B baru ini dilakukan pihak perusahaan sejak tahun 2017 silam yang jaraknya dari pemukiman sekitar ratusan meter saja.
Aslizar mengatakan sejak pembukaan lahan baru dilakukan oleh pihak perusahaan, warga satu RW tersebut sebelumnya sudah melakukan rapat antar warga. Dalam rapat tersebut disepakati beberapa poin untuk diajukan ke perusahaan, namun hingga tahun 2020 saat ini kelanjutan dari realisasi rapat tersebut tidak pernah disampaikan kepada warga.
“Quary B ini dibuka sejak tahun 2017. Dulu sudah ada kita buat rapat yang melibatkan perusahaan, rapatnya berlangsung di kantor Camat Tebing. Dan saat itu ada kelompok yang melanjutkan (Ketua Pemuda), namun hingga saat ini tidak ada sosialisasinya dengan masyarakat,”kata Aslizar, Sabtu (8/1) yang dampingi warga lainnya.
Ditambahkan, pembukaan lahan tersebut dikatakan sangatlah mengganggu kehidupan masyarakat sekitar, dimana dalam aktifitasnya mengakibatkan dampak yang kurang nyaman dengan lingkungan masyarakat. Mulai dari suara alat-alat berat, resiko ledakan batu dan banyaknya debu yang menyerang pemukiman.
“Bapak lihat sendirilah, jaraknya cuma ratusan meter saja. Memang sejauh ini belum ada korban, tetapi masyarakat sudah trauma karena dulu didaerah quarry lain pernah terjadi batunya terbang dan mengenai pemukiman warga,”katanya kawatir
Dia merasa heran dengan persoalan ini, warga RW 04 berjumlah sekitar 200KK. Dari informasi yang ia terima penerima dampak yang masuk dalam daftar hanya 23 KK dan sudah mendapat kesepakatan menggunakan perjanjian akte notaris, namun dilihat dari kondisi lapangan ada ratusan KK yang juga menanggung akibatnya namun tidak mendapatkan perhatian.
“Hanya 23 KK saja yang diganti rugi, itupun agak aneh. Masa rumah yang sejajar bisa dipilih-pilih dapat ganti rugi, contoh rumah si A dapat si B tidak dapat padahal rumahnya berdampingan,”akunya heran
Untuk itu, dia bersama warga lainnya menginginkan hal yang sama dengan 23 KK lainnya yang sudah mendapat konpensasi atau pembebasan lahan dari pihak perusahaan
“Saya sebagai anak sini, saya sebagai pemuda yang lahir disini melihat persoalan ini tidak berjalan. Makanya saya mencoba membuka persoalan ini agar masyarakat disini mendapatkan apa sepatutnya didapatkan dari dampak ini,”tegasnya
Senada juga disampaikan Bacok, menurutnya persoalan ini sebaiknya segera disikapi oleh pemerintah daerah mengingat tingginya dampak yang akan ditimbulkan oleh kegiatan tambang tersebut. Saat ini saja debu dari pembukaan lahan yang dilakukan oleh PT WPK sudah meresahkan warga sekitar, belum lagi dampak getaran terhadap rumah warga.
“Kami berharap ada campur tangan pemerintah daerah. Kami warga kecil sangat berharap ini diselesaikan. Soalnya dengan adanya penambahan lokasi quarry ini, kami tidak pernah dilibatkan,”pintanya
Minta TPA.DTA Dan Mesjid Dipindahkan
Aslizar juga mendesak pihak PT Wira Penta Kencana (WPK) untuk melakukan pemindahan Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA.DTA) Al.Muhajirin dan Mesjid Al.Muhajirin Teluk Lekup ketempat yang lebih aman, mengingat tempat Mesjid tersebut saat ini berada pas dibawah lahan baru quarry B PT Wira Penta Kencana dengan jarak kurang lebih 250 meter.
Kondisi ini menurut Aslizar merupakan yang paling penting mengingat anak-anak setiap harinya mengadakan Pendidikan Al Qur’an. Dengan aktifitas pertambangan tersebut yang hanya memiliki jarak 250 meter dan berada tepat dibawah areal pertambangan perlu menjadi perhatian serius.
“Sebenarnya ini yang paling utama, TPA.DTA Dan Mesjid harus dipindahkan,”usulnya
Dia mengatakan, pernah ada pembicaraan antara warga dan telah disampaikan kepada pihak perusahaan. Saat itu pihak perusahaan menyampaikan agar dicarikan tempat yang lebih nyaman untuk dilakukan pemindahan.
“Pernah ada pembicaraan untuk pemindahan, bahkan sudah ketahap pencarian lokasi. Tapi lagi-lagi tidak ada tindak lanjutnya,”kesalnya
Dia berharap adanya perhatian pemerintah daerah serta DPRD dan instansi lainnya untuk melakukan penyelesaian persoalan ini. Warga merasa sangat resah dengan tindakan PT Wira Penta Kencana yang hanya melakukan pendekatan terhadap orang tertentu saja.
“Kita berharap pemerintah memberikan perhatiannya. Persoalan ini cukup penting diselessaikan mengingat dampak tambang ini sudah sangat meresahkan,”pintanya.
red











Discussion about this post