JAKARTA, Potretnusantara.id – Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta di pecat dari jabatannya, politikus Partai Gerindra M. Taufik mengakui, namun tidak mengetahui apa alasan dia di copot, namun Taufik menyinggung soal mendoakan Anies Baswedan sebagai presiden. Sabtu (2/4).
“Ya nggak tahu ya, masa soal doa aja nggak boleh, saya nggak paham apa alasannya kenapa diganti, tapi penggantian itu saya anggap biasa saja, wajar-wajar saja,” katanya lagi.
Melihat pemberitaan di media, sebelumnya M. Taufik sempat mendoakan Anies menjadi Presiden saat acara pengukuhan dirinya menjadi ketua umum Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) pada Februari lalu, meski saat itu Gerindra sudah memutuskan untuk mengajukan Subianto sebagai calon Presiden.
Masih belum jelas apa yang melatari M. Taufik di copot dari jabatannya. Kuat dugaan ada sebuah blunder yang membuat dirinya di copot karena terlibat kasus pengadaan lahan Munjul di Jakarta Timur. Taufik membantah, dia mengatakan siapa saja bisa saja disebutkan dalam persidangan.
“Kan saya nggak ada hubungannya sama Munjul. Bukan dibawah koordinasi saya,” katanya.
Diketahui M. Taufik sering melontarkan kalimat kontroversial yang berseberangan dengan sikap partai.
Misalnya saat dia mendukung sejumlah nama seperti mantan walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany sebagai sosok potensial di Pilkada DKI, sementara saat itu Gerindra sendiri berencana mengajukan Wagub DKI Ahmad Riza Patria, sekarang Taufik mendoakan agar Anies jadi presiden.
Disinyalir ini adalah manuver yang membuat Gerindra kepanasan, namun aneh juga mengingat Fadli Zon malah lebih sering membuat pernyataan kontroversial tapi posisinya di partai Gerindra tetap aman-aman saja.
Beredar kabar bahwa Taufik akan menyeberang ke partai Nasdem, menanggapi kabar itu Anggota Dewan Pembina Gerindra Desmond J Mahesa mendukung Taufik ingin keluar dari partai Gerindra. Desmond menyebut kalau Taufik tidak berguna di Partai Gerindra. Sindiran yang cukup menohok.
Apakah yang muncul di benak rakyat saat disebut nama M. Taufik, pasti Lobster sudah identik dengan orang ini.
Ini terjadi pada tahun 2015 lalu, saat Taufik mengaku sering nombok saat melakukan perjalanan dinas. Menurutnya uang perjalanan dinas yang di Terima Dewan sekitar 2-2,5 juta/hari. Sedangkan yang diterimanya saat itu 470 ribu/hari.
“Coba di hitung saja makan 2 kali sehari berapa, kan nggak mungkin kami makan di warung Tegal,” kata Taufik
Uang perjalanan dinas itu biasa di gunakan anggota dewan untuk membiayai transportasi dari rumah menuju ke bandara dan sebaliknya, dan juga di pakai untuk membeli makanan dan transportasi selama berada di lokasi kunjungan kerja.
Uang makan Taufik bisa lebih dari 50 ribu. Atas dasar itu Taufik menilai uang 470 ribu/hari tidak dapat menutupi kebutuhan anggota dewan selama perjalanan dinas.
“Makan 50 ribu makan siapa? makan elu itu mah. Kalau uang makan itu masuk 470 ribu, kalau kami hendak makan lobster nggak bisa,” kata dia.
“Menggelikan sekali orang ini. Kerja entah apa, tapi fasilitas pingin segudang,” sindir netijen menanggapi stetmen wakil rakyat itu. Netijen menilai kerja dianggap minimalis tapi gaji dan tunjangan mau yang sebesar-besarnya.
Netijen beranggapan dengan di pecat nya Taufik sebagai anggota DPRD, mimpi makan lobster gratis pun sirna sudah.
“Mungkin dia harus buang gengsi dengan makan di warung tegal. Kalaupun tidak bisa hidup tanpa lobster, silahkan makan ebi kering saja, toh sama-sana udang,” kelakar netijen lagi.
Taufik juga diketahui salah satu yang berseberangan dengan Ahok saat mesin menjabat sebagai Gubernur DKI. Mungkinkah ini yang disebut kualat? Bela Anies malah kena getahnya, sedangkan Ahok masih baik-baik saja sampai saat ini.
Robert.










