Potretnusantara.id, Subi –Alih-alih terus bergantung pada ikan kerapu atau napoleon yang kini mulai sepi pasar akibat berhentinya ekspor kapal Hongkong, sejumlah nelayan di Pulau Subi, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, memilih berinovasi. Salah satunya adalah Pero dan Ali Akbar—dua nelayan lokal yang kini tengah serius mengembangkan budidaya kepiting bakau dengan sistem keramba jaring apung (KJA).
Budidaya ini tidak hanya sekadar eksperimen. Mereka memelopori penggunaan kotak khusus sebagai rumah kepiting yang ditempatkan dalam keramba ukuran 4×4 meter, terdiri dari 4 petak. Inovasi ini merupakan yang pertama di Subi dan diyakini bisa mempercepat pertumbuhan kepiting serta meminimalisir risiko kematian atau kanibalisme antar kepiting.
“Bibit yang kami pelihara rata-rata berukuran di bawah 2 ons. Kami beli dari masyarakat seharga Rp25 ribu atau kami cari sendiri di hutan bakau,” ujar Ali, Jumat (1/8/2025).
Rencananya, mereka akan menebar hingga 3.000 bibit kepiting bakau di petakan keramba tersebut.
Ali juga menegaskan, sebelumnya bibit kepiting telah dihitung beratnya sebelum di masukan dalam kotak budidaya,hal ini untuk mengetahui dampak perubahan secara bertahap agar kepetingan tersebut bisa dihitung penambahan beratnya pertiga bulan dan memasuki masa panennya.
” Untuk memastikan pertumbuhan kepeting sesuai dengan hasil pakan yang kita sediakan dan perawatan lanjutan hingga panen nanti” tegas Ali.
Selanjutnya kebersihan dan perawatan air laut mengalir pada daerah keramba kepiting juga menjadi atensi. Agar pertumbuhan kepiting tidak terganggu atau pun menyebabkan kematian pada kepiting tersebut akibat adanya bahan kimia atau kotoran zat lainya.
Pero menambahkan, masa panen diperkirakan akan tiba pada Februari 2026, bertepatan dengan perayaan Imlek. Momen ini dianggap strategis karena harga kepiting biasanya melonjak tajam. “Saat Imlek, harga minimal bisa tembus Rp350 ribu per kilogram. Itu sangat menguntungkan,” ungkapnya.
Selain meningkatkan nilai ekonomi, langkah ini juga membuka peluang baru bagi masyarakat Subi yang sebelumnya menggantungkan hidup dari hasil tangkapan laut yang kini mulai menurun nilai jualnya.
Namun, di tengah optimisme tersebut, Ali dan Pero berharap adanya dukungan kebijakan dari pemerintah daerah agar budidaya ini dapat berkelanjutan. Salah satunya adalah jaminan harga kepiting bakau saat panen raya.
“Kami berharap pemerintah daerah bisa membantu mengatur dan menjamin harga kepiting tetap stabil saat panen nanti. Jangan sampai harga anjlok saat produksi melimpah,” tutur Pero
Dengan strategi dan inovasi lokal seperti ini, Subi bersiap menjadi salah satu sentra budidaya kepiting bakau unggulan di Natuna membuktikan bahwa nelayan bisa adaptif, kreatif, dan lebih kuat bertahan dalam menghadapi perubahan zaman.
Penulis kalit










