ASAHAN, Potretnusantara.id-Seorang pria bernama Selamat (62) asal Desa Gesikan, Kecamatan Pakel, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur mengeluhkan nasibnya ingin pulang ke kampung halaman tapi tidak mempunyai biaya, ia berharap bisa difasilitasi pemerintah agar dirinya bisa mendapat ongkos pulang ke Pulau Jawa.
Lajang tua kelahiran 1963 ini menuturkan, ia merupakan korban Pekerja Mingran Indonesia (PMI) yang ditahan di Depot Imigrasi Kemayan Pahang Malaysia dideportasi ke tanah air lewat Pelabuhan Dumai. Tersesat karena tidak memiliki uang yang cukup untuk pulang ke kampung akhirnya Selamat memutuskan untuk ikut dengan salah seorang temannya pulang ke Pematang Siantar.
“Ingat saya pada saat kejadian Sunami Nias tahun 2005 saya tersesat di Pematang Siantar, sempat bekerja menanam jahe di ladang milik warga, dan pernah merantau di Porsea, tapi karena gajinya tidak memadai dan hanya cukup untuk dimakan saya memutuskan untuk pindah bekerja perkebunan sawit di Desa Padang Mahondang milik saudara teman”, ungkap Selamat kepada wartawan saat ditemui disebuah warung di Dusun IX Pardamuan Desa Padang Mahondang, Kecamatan Pulau Rakyat, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, Selasa (19/11/24).
Selama hampir 20 tahun Selamat tinggal di Desa Padang Mahondang tapi tidak mampu mengumpul uang untuk ongkos pulang kampung, karena kerjanya serabutan itupun kadang ada kadang tidak, hidupnya pun menumpang-numpang di rumah orang dan makan juga mengharap pemberian orang.
“Pak Selamat ini sudah hampir 25 tahun tinggal di Desa Padang Mahondang dan sudah punya Kartu Keluarga (KK) sendiri. Sedang KTP baru selesai diurusnya untuk agar bisa dimediasi oleh Pemerintah mendapatkan ongkos pulang ke Pulau Jawa”, ungkap Lindung Marpaung salah seorang warga Pardomuan.
Hal itu dibenarkan oleh Kepala Desa Padang Mahondang Parnandus Siregar saat ditemui wartawan. “Iya, pak Selamat sudah lama tinggal di di desa ini dan menjadi penduduk Desa Padang Mahondang dan sudah miliki KK dan KTP. Memang rencana mau diurus kepulangannya ke kampungnya, tapi kita masih disibukkan Pilkada, habis Pilkada nantilah kita pikirkan kepulangan pak Selamat”, ucap Kades.
Keinginan Selamat untuk pulang ke Pulau Jawa sangat kuat, selain rindu kampung halaman juga rindu keluarga, apalagi dirinya yang kini kondisi fisiknya sudah tidak sehat akibat penyakit asma yang dideritanya sejak lama.
“Orang tua laki-laki masih ada tapi sewaktu saya merantau ke Malaysia sudah sakit-sakitan, ibu sudah meninggal dan saya masih mempunyai seorang kakak bernama Suparmi dan seorang adik perempuan bernama Sukem keduanya tinggal di Desa Gesikan”, bebernya.
Selamat berharap informasi tentang dirinya ini bisa diketahui keluarganya dan tergugah hatinya untuk menolong saya pulang. Mungkin beranggapan Selamat sudah tidak ada, karena sejak kepergiannya merantau ke Malaysia ia sudah kehilangan kontak dengan keluarganya.
“Sudah ada 30 tahun saya kehilangan kontak dengan keluarga, semoga dengan informasi keberadaan saya ini bisa diketahui dan mereka berharap saya pulang”, tandasnya.
Paimin










