PALEMBANG, Potretnusantara.id-Viral dimedia sosial, salah satu perawat yang diketahui bekerja di RS Siloam, Sumatera Selatan mendapat perlakuan kurang baik dari orang tua pasien yang saat itu mendapat perawatan di rumah sakit tersebut.
Pihak Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang mengakui adanya kejadian tersebutt. Dikatakan sangat menyangkan tindakan yang dilakukan olehh orang tua pasien hingga mengakibatkan Christina Remauli (Perwat-red) mengalami memar disejumlah tubuhnya.
“Kejadian penganiayaan ini semestinya tidak perlu terjadi. Kami, manajemen RS Siloam sangat menyesali perbuatan pelaku, karena kami sudah berusaha memberikan pelayanan terbaik untuk pasien yang dirawat,” kata Direktur Keperawatan Rumah Sakit Siloam Sriwijaya, Tata, Jumat (16/4).
Peristiwa itu, kata Tata, awalnya terjadi sekitar pukul 11.00 WIB. Saat itu anak pelaku dirawat di lokasi kejadian. Karena sudah diperbolehkan pulang, korban mencabut selang infus.
“Dikarenakan pasien merupakan anak pelaku dan masih berusia dua tahun, sedang aktif-aktifnya, kita berhati-hati untuk mencabut selang infus,” imbuhnya.
Namun, sambung Tata, hal yang tak diinginkan terjadi. Saat itu ibu pasien menggendong pasien hingga tangan pasien mengeluarkan darah.
“Melihat itu, perawat kami langsung mengganti plester yang berdarah, sembari menghentikan darah di tangan pasien. Saat kejadian pelaku tidak berada di lokasi,” bebernya.
Sekitar pukul 14.00 WIB, pelaku datang dan memanggil perawat tersebut. Sang istri kemungkinan menceritakan kejadian tersebut kepada pelaku.
“Ketika menemui pelaku, kami datang bertiga. Memang dia menyuruh yang tidak berkepentingan disuruh keluar, namun kami menolak karena kami yang bertanggung jawab, baik terhadap pasien dan perawat. Pelaku melontarkan pertanyaan, belum sempat dijawab dia langsung menampar wajah perawat kami,” jelasnya.
Selanjutnya, pelaku juga memaksa korban bersujud meminta maaf. Di saat yang bersamaan, pelaku juga menendang perut korban.
“Pelaku juga memaksa perawat kamu bersujud meminta maaf, di saat itu juga dia menendang perut perawat kami. Melihat kejadian tersebut kami sempat menghalangi dan melerai, namun pelaku justru menarik rambut korban. Hingga petugas keamanan RS pun berdatangan dan mengamankan korban karena terluka dan memar,” ujar Tata.
Tata mengatakan pelaku yang merupakan orang tua pasien itu sempat mengaku sebagai polisi.
“Kebetulan dalam kamar yang sama itu berada anggota polisi. Dia mencoba memperingatkan pelaku yang juga mengaku sebagai anggota polisi, untuk tidak main hakim sendiri,” ungkap Tata.
Sementara itu, Kapolda Sumsel Irjen Eko Indra Heri menegaskan pelaku bukan anggota Polri.
“Tidak betul (pelaku anggota Polri), Pelaku itu ngaku-ngaku sebagai anggota Polri,” kata Irjen Eko.
Eko menegaskan anggota Polri yang ada di area kejadian justru mencegah pelaku melakukan penganiayaan. Anggota Polri tersebut merupakan keluarga pasien lain yang juga dirawat.
“Anggota Polri yang melerai dan melarang untuk melakukan aniaya,Keluarga pasien yang kebetulan di TKP, pasien lain,” ujarnya.
red/sumber detikcom










