Natuna, Potretnusantara.id – Di balik hamparan bukit dan angin laut yang sejuk, sebuah gerakan senyap tapi kuat mulai tumbuh di Kabupaten Natuna.
Warga perlahan meninggalkan kebiasaan membiarkan lahan kosong terbengkalai. Mereka kini turun tangan, mencangkul, menanam, dan menumbuhkan harapan baru dari tanah sendiri, untuk masa depan sendiri.
Gerakan pemanfaatan lahan tidur menjadi kebun jagung, singkong, hingga sayur-mayur ini menjadi bagian nyata dari dukungan warga Natuna terhadap visi besar Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam mewujudkan Asta Cita—terutama cita-cita untuk mewujudkan kemandirian pangan nasional.
Langkah rakyat ini tidak berjalan sendiri. Pemerintah Daerah Natuna pun hadir langsung mendampingi. Melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), pupuk bersubsidi mulai disalurkan, bibit unggul disebar, dan para petani dilatih agar siap mengelola lahan secara profesional.
“Kita tidak boleh bergantung terus pada distribusi pangan dari luar daerah. Natuna harus bisa berdiri di atas kaki sendiri,” tegas wakil Bupati Natuna, Jarmin Sidik, dalam pernyataannya, Sabtu (21/6/2025).
“Pemanfaatan lahan tidur adalah bentuk nyata mendukung arahan Presiden Prabowo tentang kedaulatan pangan,” tambahnya penuh semangat.
Pemerintah Daerah kabupaten Natuna melalui Sekretaris DKPP Natuna, Isniadi, menjelaskan bahwa pihaknya sedang menggelontorkan anggaran Rp900 juta dari APBD 2025 untuk pengadaan pupuk NPK, serta tambahan Rp300 juta untuk pupuk dolomit, yang berfungsi menetralkan keasaman tanah dan meningkatkan kesuburan.
Namun, sistem pemberian bantuan kini diperketat, hanya petani yang benar-benar aktif dan memiliki lahan yang telah digarap yang akan menerima pupuk bersubsidi.
“Kalau lahannya masih semak, tidak digarap, tidak bisa dapat bantuan. Kita ingin tepat sasaran. Harus ada bukti bahwa petani serius,” ujar Isniadi.
Langkah ini sekaligus menjadi bentuk penghargaan bagi petani yang benar-benar berjuang, dan mendorong yang lain agar ikut bergerak bersama.
Di Desa Sepempang, seorang petani bernama Rahmat (45) tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Ia kini rutin memanen jagung dari lahan yang dulu hanya ditumbuhi semak.
“Kami dulu bingung lahan mau dibuat apa. Sekarang sudah jelas manfaatnya. Bisa untuk makan sendiri, bisa juga dijual ke pasar,” ujarnya dengan mata berbinar.
Cerita Rahmat menjadi potret perubahan di banyak desa di Natuna. Dari ujung pantai hingga lembah-lembah, warga bergerak bersama. Didampingi penyuluh, dibantu perangkat desa, mereka menanam bukan hanya tanaman—tapi juga harapan, kemandirian, dan kebanggaan sebagai bagian dari perubahan besar bangsa.
Gerakan optimalisasi lahan ini tidak hanya menciptakan ketahanan pangan, tapi juga ketahanan ekonomi keluarga. Ketika petani tersenyum karena hasil panennya, anak-anak mereka pun bisa sekolah lebih tenang.
Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, Natuna telah memberi contoh bahwa perubahan besar bisa dimulai dari cangkul kecil di tangan rakyat sendiri.
Penulis: Kalit










