Potretnusantara.id,NATUNA – Di tengah tekanan ekonomi daerah yang semakin berat, Cen Sui Lan memilih tetap berdiri di garis depan menjaga Natuna wilayah terluar Indonesia yang berada di beranda strategis Laut Natuna Utara.
Bagi banyak daerah, krisis fiskal mungkin hanya soal angka dan laporan keuangan. Namun bagi Natuna, penurunan pendapatan daerah berarti ancaman langsung terhadap keberlangsungan pembangunan, pelayanan publik, hingga denyut ekonomi masyarakat perbatasan.
Dalam lebih dari satu tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Natuna menghadapi tekanan fiskal serius akibat menurunnya Dana Bagi Hasil (DBH) minyak dan gas dari pemerintah pusat serta tertundanya penyaluran dana kurang bayar DBH. Kondisi itu membuat ruang gerak keuangan daerah semakin sempit.
Padahal, Natuna bukan daerah biasa.
Kabupaten di ujung utara Indonesia ini merupakan wilayah strategis nasional yang menjadi garda terdepan kedaulatan Republik Indonesia di kawasan Laut Natuna Utara wilayah yang memiliki arti penting secara geopolitik, ekonomi, dan pertahanan negara.
Di tengah situasi itulah, Cen Sui Lan mencoba memastikan Natuna tidak kehilangan arah pembangunan.
“Kita memang sedang berada dalam situasi yang tidak mudah. Pendapatan daerah turun, sementara kebutuhan masyarakat tetap harus dipenuhi. Tapi saya selalu percaya, daerah ini tidak boleh berhenti hanya karena keadaan sedang sulit,” tegas Cen Sui Lan.
Pernyataan itu menjadi refleksi bagaimana pemerintah daerah di kawasan perbatasan harus bertahan di tengah tekanan fiskal nasional yang ikut memukul daerah-daerah penghasil migas.
Ketergantungan Natuna terhadap sektor migas membuat daerah ini sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan transfer pusat. Namun alih-alih menyerah, Pemkab Natuna justru berupaya mencari jalan keluar dengan menarik lebih banyak program pembangunan pusat masuk ke daerah.
Strategi itu bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi menjaga ekonomi masyarakat tetap hidup.
“Ketika ada proyek pembangunan masuk, manfaatnya bukan hanya bangunan itu selesai. Masyarakat juga ikut merasakan perputaran ekonomi. Ada yang bekerja, ada yang menyediakan material, ada usaha kecil yang ikut hidup,” ujarnya.(25/5/2026)
Sejumlah program yang kini terus diperjuangkan di antaranya pembangunan Pasar Ikan Ranai, pembangunan Kampung Nelayan dan Sekolah Rakyat yang diharapkan mampu memberi efek ekonomi langsung bagi masyarakat.
Di saat bersamaan, Pemkab Natuna juga melakukan langkah efisiensi besar-besaran terhadap pengeluaran daerah. Belanja perjalanan dinas, transportasi hingga operasional pemerintah mulai diperketat agar anggaran tetap fokus pada sektor prioritas seperti kesehatan, pendidikan, dan pelayanan masyarakat.
“Kita sekarang harus lebih hati-hati menggunakan anggaran. Mana yang benar-benar prioritas untuk masyarakat, itu yang didahulukan,” kata Cen.
Perjuangan Cen Sui Lan menjaga Natuna dinilai bukan sekadar upaya mempertahankan stabilitas daerah, tetapi juga bagian dari menjaga wajah Indonesia di kawasan perbatasan.
Sebab di wilayah terluar seperti Natuna, pembangunan bukan hanya soal infrastruktur. Kehadiran negara melalui pelayanan publik, ekonomi masyarakat, dan keberlanjutan pembangunan menjadi simbol nyata bahwa Indonesia hadir hingga ke beranda paling depan negeri.
Di tengah keterbatasan fiskal yang terus membayangi, Cen Sui Lan pun mengajak masyarakat tetap optimistis menghadapi masa depan Natuna.
“Kondisi ini bukan alasan untuk menyerah. Kita mungkin sedang diuji, tetapi saya yakin kalau pemerintah dan masyarakat bisa berjalan bersama, Natuna akan mampu melewati masa sulit ini,” tutupnya. (kalit)









