SINGKIL, Potretnusantara.id– Di tepian laut Samudra Hindia, terhampar sebuah pantai yang sejak dulu menjadi tempat berlabuh rindu bagi warga Aceh Singkil. Namanya Pantai Cemara Indah destinasi yang tak pernah kehilangan pesonanya, meski zaman terus berganti.
Petang itu, (27/10), saya menapaki kembali pasir lembut Pantai Cemara Indah di Desa Gosong Telaga Selatan, Kecamatan Singkil Utara. Angin laut berhembus lembut, membawa aroma asin khas pantai dan kenangan masa kecil ketika garis pantainya masih bisa ditempuh dari satu kecamatan ke kecamatan lain, sebelum terbentuk muara kecil yang kini menjadi batas alam.
Untuk masuk ke kawasan wisata, setiap pengunjung cukup membayar tiket sebesar Rp5.000 di pintu gapura kokoh bertuliskan “Pantai Cemara Indah”. Dari sana, jalan setapak berlapis pasir halus mengantar ke deretan warung kuliner yang berjejer rapi di tepi pantai — tempat pengunjung bersantai, menyeruput air kelapa muda, atau menikmati ikan bakar segar sambil menunggu senja berlabuh.
Petang itu memang tak begitu ramai, hanya beberapa pengunjung saja yang ada, bisa dihitung jari. Maklum suasana hujan juga membuat warga mungkin untuk memilih berdima diri di rumah.
Namun bila hari-hari libur per minggu, atau even, hari-hari besar kawasan objek wisata ini sangat membludak pengunjungnya, tak hanya masyarakat lokal juga dari kabupaten/kota tetangga.
Jika kita jalani warung-warung disepanjang pantai seakan tak pernah habis dan luas baik sisi barat maupun timur.
Panorama Alam dan Jejak Budaya
Pantai ini menjadi ikon wisata unggulan Kabupaten Aceh Singkil, di bawah pengelolaan pihak swasta bersama Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora). Nama “Cemara Indah” berasal dari barisan pohon cemara laut yang tumbuh alami di sepanjang garis pantai. Pohon-pohon itu bukan sekadar penghias lanskap, tapi juga benteng alami penahan abrasi dan peneduh bagi wisatawan.
“Kalau sore, pantai ini ramai oleh anak muda yang datang foto-foto. Sunset-nya cantik sekali, apalagi kalau cuacanya cerah,” tutur Yardi, warga sekitar yang mengelola warung kecil di kawasan pantai.
Menjelang senja, cahaya keemasan matahari memantul di permukaan laut yang tenang. Siluet pepohonan cemara berdiri gagah, menciptakan panorama romantis yang kerap membuat siapa pun enggan beranjak pulang.
Jejak Waterboom yang Kini Membisu
Beberapa tahun silam, Waterboom Cemara Indah pernah menjadi daya tarik tambahan bagi pengunjung. Wahana ini menawarkan kolam renang anak-anak hingga dewasa, perosotan air, taman bermain, dan pondok-pondok kecil untuk beristirahat.
“Waterboom ini dulu dibangun supaya warga tak perlu jauh-jauh ke kota lain untuk menikmati rekreasi air,” kenang Yardi.
Namun kini, suara tawa dan percikan air di waterboom telah berhenti. Fasilitas tersebut tutup karena tingginya biaya perawatan dan menurunnya minat pengunjung. Hanya kolam kosong dan papan nama pudar yang tersisa, menjadi saksi bisu masa kejayaannya.
Meski begitu, keberadaannya pernah memberikan banyak manfaat — membuka lapangan kerja bagi pemuda lokal, dari penjaga kolam, petugas kebersihan, hingga pedagang kuliner.
Menelusuri Rimba Mangrove Cemara Indah
Tak jauh dari pantai, sekitar 10 menit berjalan kaki, terbentang kawasan Ekowisata Mangrove Cemara Indah. Jalur kayu sepanjang hampir 200 meter menembus rimbun pepohonan mangrove, menghadirkan suasana sejuk dan tenang. Burung-burung pantai beterbangan di antara dahan, menciptakan harmoni alam yang menenangkan.
Ekowisata ini dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat dengan dukungan pemerintah desa dan Dinas Pariwisata. Selain menjadi tempat rekreasi, kawasan ini berfungsi sebagai ruang edukatif bagi pelajar dan mahasiswa.
“Kami sering menerima kunjungan sekolah. Anak-anak belajar langsung tentang fungsi mangrove menjaga garis pantai dan menjadi habitat ikan serta burung,” jelas Anto, ketua Pokdarwis Cemara Indah.
Gotong Royong adalah salah satu tindakan untuk Menjaga Alam dan menjadikan
Keistimewaan Pantai Cemara Indah sehingga memancarkan pemandangannya yang sangat mempesona.
mardin










