ASAHAN, Potretnusantara.id-Kabupaten Asahan memiliki kekayaan cagar budaya yang cukup memiliki sejarah, salah satunya adalah Cagar Budaya Rumah Syech Abdurrahman Silau Lau yang berlokasi di Desa Silo Lama Kecamatan Silo Laut.
Peninggalan ini cukup memiliki sejarah yang religius, dimana Cagar Budaya berbentuk Rumah Panggung dengan corak khas Melayu tersebut diketahui merupakan kediaman dari Syech Haji Abdurrahman Urrahim Bin Nahkoda Alang Batubara atau lebih dikenal sebagai Syech Abdurrahman Silau Laut.
“Cagar budaya merupakan suatu situs atau benda bersejarah yang memiliki nilai ilmu pengetahuan penting, yang bersifat kebendaan dan keberadaannya harus dijaga serta dilestarikan. Dalam mempelajari cagar budaya banyak hal baru dari masa lalu yang dapat kita bawa juga berkaitan dengan masa sekarang”, ujar Bupati Asahan, H. Suraya BSc saat melakukan kunjungan ketempat tersebut. Kamis (29/11).
Dia mejelaskan, Pemerintahan Republik Indonesia juga menekankan untuk tetap menjaga dan melestarikan cagar budaya dimiliki setiap daerah, hal ini tertuang dalam UU No. 11 Tahun 2010, dimana warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya.
Dan kemudian situs cagar budaya dan kawasan cagar budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.
“Memang saat ini, rumah Syech Abdurrahman Silau Laut masih ditempati oleh keturunannya. Didepan rumah tersebut terdapat rumah Tuan Syech Ibrahim Ali yang merupakan keturunan dari Tuan Syech Abdurrahman Silau Laut,”katanya menjelaskan.
Dalam sejarahnya, Haji Ibrahim Ali menceritakan bahwa Syech Silau Laut pernah menjadi panglima perang di Kedah (Malaysia). Dirinya juga menambahkan bahwa Tuan Syech Abdur Rahman (Tuan Syech Silau Laut I).
Seusai menimba ilmu di Mekkah, kembali ke Sumatera Utara dan mengembangkan Tareqat Syattariah di Silau Laut hingga wafat pada 2 Jumadil Awal 1360 H atau 28 Februari 1941, dalam usia 125 tahun.
“Semasa Tuan Syech Silau Laut hidup, murid beliau banyak di sini. Satu hal yang harus saya sampaikan, semasa hidupnya Tuan Syech Silau Laut adalah ulama yang dihormati. Tak heran banyak yang ziarah ke makamnya untuk mengambil iktibar. Zuriat Tuan Syech Silau Laut juga terbuka untuk siapapun,” ungkapnya.
Paimin










