KARIMUN, Potretnusantara.id – Gula pasir diduga ilegal asal Malaysia dua kali dalam seminggu dipastikan masuk ke Kabupaten Karimun melalui salah satu pelabuhan di wilayah Kecamatan Karimun dengan jumlah puluhan ton.
Gula yang diangkut menggunakan kapal pompong tersebut pada umumnya masuk dan dilakukan pembongkaran pada malam hari.
Kemudian, gula pasir yang dikemas dalam goni plastik ini seluruhnya diangkut dengan menggunakan lori dan disimpan disalah satu gudang diwilayah Kecamatan Meral.
“Kadang masuknya dua kali dalam seminggu, kalau sampainya agak subuh disimpan dulu ke gudang, agak siang baru diangkut pakai lori pelabuhan diantar ke gudang pantai pa’Imam ,”ujar salah seorang warga sekitar. Kamis (13/1).
Dalam amatannya, karung-karung gula tersebut terkadang diganti atau karungnya dibalikkan sebelum dilakukan pengangkutan ke gudang di wilayah Meral.
“Kadang karungnya terbalik, yang diluar jadi dibuat ke dalam, kadang juga karungnya diganti pakai karung gula lokal, biasa disebut ganti baju bang,”katanya.
Terpisah, Mbok Neng salah satu pedagang warung kopi saat mendengar maraknya peredaran yang diduga gula ilegal beredar di Karimun merasa lucu, Dia mengatakan selama ini harga gula di Karimun relatif mahal.
“Lah harga aja sampai 12 hingga 13 ribu per kilonya, kalau illegal harusnya murah toh, ini malah mahal,”katanya tertawa.
Dia merasa lucu karena harga gula legal dan illegal tersebut sama, dan hal tersebut menurutnya merupakan sebuah bencana.
“Wajar kita ini banyak bencana ya mas, wong banyak yang ilegal. Yah, tapi sudahlah yang penting barangnya ada,”katanya senyum.
Dua Kali Seminggu Diduga Gula Ilegal Masuk Karimun, Jumlahnya Fantastis
KARIMUN, Potretnusantara.id – Gula pasir diduga ilegal asal Malaysia dua kali dalam seminggu dipastikan masuk ke Kabupaten Karimun melalui salah satu pelabuhan di wilayah Kecamatan Karimun dengan jumlah puluhan ton.
Gula yang diangkut menggunakan kapal pompong tersebut pada umumnya masuk dan dilakukan pembongkaran pada malam hari.
Kemudian, gula pasir yang dikemas dalam goni plastik ini seluruhnya diangkut dengan menggunakan lori dan disimpan disalah satu gudang diwilayah Kecamatan Meral.
“Kadang masuknya dua kali dalam seminggu, kalau sampainya agak subuh disimpan dulu ke gudang, agak siang baru diangkut pakai lori pelabuhan diantar ke gudang pantai pa’Imam ,”ujar salah seorang warga sekitar. Kamis (13/1).
Dalam amatannya, karung-karung gula tersebut terkadang diganti atau karungnya dibalikkan sebelum dilakukan pengangkutan ke gudang di wilayah Meral.
“Kadang karungnya terbalik, yang diluar jadi dibuat ke dalam, kadang juga karungnya diganti pakai karung gula lokal, biasa disebut ganti baju bang,”katanya.
Terpisah, Mbok Neng salah satu pedagang warung kopi saat mendengar maraknya peredaran yang diduga gula ilegal beredar di Karimun merasa lucu, Dia mengatakan selama ini harga gula di Karimun relatif mahal.
“Lah harga aja sampai 12 hingga 13 ribu per kilonya, kalau illegal harusnya murah toh, ini malah mahal,”katanya tertawa.
Dia merasa lucu karena harga gula legal dan illegal tersebut sama, dan hal tersebut menurutnya merupakan sebuah bencana.
“Wajar kita ini banyak bencana ya mas, wong banyak yang ilegal. Yah, tapi sudahlah yang penting barangnya ada,”katanya senyum.










