Natuna, Potretnusantara.id — Warna kekuningan tampak mencolok dari air yang mengalir deras ke bak penampungan PDAM di Bukit Berangin, Ranai. Air inilah yang setiap hari dialirkan ke rumah-rumah warga di ibu kota Kabupaten Natuna. Potret nyata minimnya infrastruktur dasar di wilayah perbatasan Indonesia yang telah berjalan selama lebih dari dua dekade.
Dalam sebuah unggahan video status WhatsApp milik Direktur PDAM Tirta Nusa, Deng, pada kamis (19/6/2025), tampak jelas aliran air yang tidak jernih memasuki bak penampungan utama.
“Beginilah kondisi air kita, karena belum memiliki pengolahan, masih fasilitas tradisional,” tulis Deng dalam keterangannya.
Sejak terbentuknya Kabupaten Natuna pada 12 Oktober 1999, belum pernah ada Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang memadai dibangun di wilayah ini. Selama 26 tahun, masyarakat menggantungkan hidup pada sistem penyaluran air sederhana yang langsung bersumber dari mata air pegunungan tanpa penyaringan yang memadai.
Deng menjelaskan kepada Potretnusantara.id di ruang kerjanya, bahwa hingga kini PDAM Tirta Natuna masih mengandalkan metode konvensional. Air mentah dari sumber mata air di Bukit Berangin hanya dialirkan ke tiga bak penampungan tanpa tahapan penyaringan atau pengolahan.
“Tidak ada sistem filtrasi atau disinfeksi. Maka ketika hujan turun, air bisa berubah warna karena bercampur tanah,” jelas Deng diruangan kerjanya, 19 Juni 2025.
Sistem ini juga rawan gangguan. Curah hujan tinggi kerap menyebabkan pipa pecah, baik karena tekanan air dan angin, atau karena tertimpa pohon tumbang.
“Saat ini hujan cukup tinggi, dan tim kami bahkan harus bekerja hingga malam di atas Bukit Berangin untuk memperbaiki pipa yang pecah,” ungkap Deng.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan dampak jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat. Tanpa IPA, masyarakat terus mengonsumsi air yang belum memenuhi standar kualitas air minum.
Deng pun mendesak agar Pemerintah Pusat memberikan perhatian serius terhadap kebutuhan dasar masyarakat Natuna.
“Kami sadar anggaran negara sedang ketat, tapi air bersih adalah kebutuhan pokok. Investasi pembangunan IPA di Natuna adalah investasi untuk kehidupan masyarakat,” tegasnya.
Meski saat ini kebutuhan air bersih di Ranai masih tercukupi karena curah hujan yang tinggi, kekhawatiran akan krisis air bersih tetap menghantui. Pada musim kemarau, PDAM bahkan sempat membuat jadwal distribusi air karena terbatasnya pasokan.
“Untuk sekarang, debit air masih mencukupi untuk wilayah kota Ranai. Tapi ini tidak bisa dijadikan alasan untuk menunda pembangunan infrastruktur air bersih,” tutup Deng. (Kalit).
Editor : Din









