LINGGA – Potretnusantara.id – Suasana Imlek dan Ramadan yang berdekatan tahun ini menjadikan suatu bukti untuk memberi ruang yang layak bagi ekspresi budaya Tionghoa sekaligus menghormati kekhusyukan Ramadan.
Menghargai perbedaan menjadi tanggung jawab kita bersama merayakan Imlek, menjaga lisan dan unggahan selama Ramadan, jangan merendahkan keyakinan orang lain, ujar Dennis Tay/Aden.
Ditempat yang sama, Awin mengatakan, Pertemuan dua momentum besar ini menjadi pengingat bahwa harmoni tidak datang dengan sendirinya, ia diupayakan melalui kesadaran dan kedewasaan.
Lampion merah dan beduk Ramadan mungkin berasal dari tradisi yang berbeda. Namun, keduanya dapat berdenting dalam irama yang sama: irama Indonesia. Di sanalah kebangsaan menemukan maknanya—bukan dalam dominasi satu identitas atas yang lain, melainkan dalam kesediaan berbagi ruang, waktu, dan harapan.
Dalam Perayaan Lelang di Kelenteng Cetya Dharma Ratna Dabo Singkep, Lingga di Mulai pada Pukul, 20,00 Wib Usai Umat Islam melaksanakan Solat Tarawih, kite saling menghargai kita start dengan musik yang kecil setelah traweh kita baru start highsound.
pada hari ke-empat perayaan Imlek 2577/2026, Jumat (20/2/2026) malam.
Kemeriahan lelang yang berlangsung tidak jauh beda dalam tahun sebelumnya, halaman Klenteng Cetiya Dharma Ratna, Dabo singkep, dipadati para pengunjung membuat suasana terlihat begitu semarak.
Para tamu yang mengikuti leleng bukan hanya warga tionghoa yang menetap di dabo, namun banyak warga perantau Tionghoa asal Dabo serta tamu dari luar Kabupaten Lingga, yang ikut pada lelang perayaan imlek tahun 2026 ini.
Salah seorang pengurus klenteng Cetiya Dharma Ratna, Halim Untung menuturkan, acara lelang yang digelar pada tahun ini, sama seperti tahun tahun sebelumnya,lelang ini sendiri merupakan lelang amal, dimana hasil penjualan dari barang-barang yang dilelang ini semuanya akan disumbangkan ke vihara.
“Lelang ini digelar setelah empat hari perayaan imlek.Untuk barang-barang yang kita lelang semuanya terkait dengan keperluan sembahyang. Untuk barang yang bisa dipajang, banyak juga yang menyerahkannya ke klenteng untuk dipajang,” ujarnya.
Lelang ini, telah berlangsung sejak tahun 1988. Dengan tujuan mencari dana, pada awalnya dana hasil lelang dipakai untuk biaya pembangunan kelenteng yang memakan waktu sembilan tahun.
“Alim menambahkan bahwa. Lelang ini bukan pamer uang, tapi bagaimana mengetuk hati warga Tionghua untuk beramal dan Menyisihkan rezekinya untuk klenteng,” ujarnya.
Warga tionghoa perantau yang datang dari berbagai daerah, pada hari raya imlek mereka pulang saat hari imlek dan mereka ikut dalam acara lelang ini.
“Terlihat hadir hadir dalam kegiatan yang berlangsung Kapolres Lingga Waka Polres, Kepala Dinas Kesehatan Mewakili Bupati Lingga. serta sejumlah pengusaha sukses Lingga, (Resky/tbn)










