Aceh Singkil,Potretnusantara.id- Pernyataan Bupati Aceh Singkil, Safriadi Oyon, dalam acara penutupan Hari Kesehatan Gerak (HKG) PKK ke-53 di Lapangan Alun-alun Desa Pulo Sarok, Singkil, Kamis 14 Agustus 2025, menuai kecaman keras dari dua lembaga aktivis.
Dua lembaga tersebut yakni, Forum Mahasiswa Aceh Singkil (Formas) dan Dewan Pimpinan Pusat Badan Eksekutif Mahasiswa-TTR (DPP BEM-TR) menilai pidato bupati terkesan kearoganan angkuh, intimidatif, dan tidak mencerminkan empati terhadap kondisi masyarakat.
Kritikan ini muncul setelah polemik terkait rencana pengadaan gadget mewah senilai Rp 90 juta dan empat unit mobil dinas Wakil Bupati dan Forkopimda lainnya.
Ketua Formas, Ahmad Fadil Lauser Melayu, mengamati gaya bicara Bupati Safriadi Oyon yang dianggap angkuh dan lebih mirip pemimpin perusahaan, bukan pemimpin rakyat. Fadil juga mengecam pernyataan bupati yang seolah mengintimidasi para pengkritik.
“Bupati bilang, ‘Nanti saya suruh tangkap Kapolres baru tahu.’ Ini jelas intimidasi terhadap kritik dari masyarakat,” tegas Ahmad Fadil.
Selain itu, tambah Fadil juga menilai perbandingan yang dilakukan bupati antara Aceh Singkil dengan daerah lain yang tingkat kemiskinannya lebih rendah sebagai hal yang tidak relevan dan terkesan mengabaikan kondisi lokal.
Sementara Muhammad Syariski, Ketua DPP BEM-TR. Syariski menuding bupati tidak menunjukkan urgensi dan empati karena menurut pengamatannya Klarifikasi Bupati Aceh Singkil Safriadi Oyon di momen HKG itu, justru dianggap semakin melukai hati masyarakat.
“Klarifikasi Bupati Oyon tersebut semakin melukai hati masyarakat, bukannya mempertimbangkan urgensi tentang pengadaan gadget mewah dan mobil mahal malah di tambah pengadaan drone juga,” tegasnya.
Sementara, sementara tambahnya, jalan yang dilalui setiap hari di mana-mana sudah berlubang, apakah lebih penting pengadaan tersebut daripada nyawa masyarakatnya.
Syariski juga menilai sikap bupati yang terkesan menyudutkan wakilnya terkait pengadaan mobil. Ia menegaskan, pengadaan tersebut tidak mungkin terlaksana tanpa persetujuan bupati.
Menurut Syariski, sebagai pemimpin yang pernah menjabat pada periode sebelumnya (2012-2017) dan dikenal sebagai bupati terkaya di Aceh, Safriadi Oyon seharusnya memprioritaskan perbaikan fasilitas umum daripada pengadaan barang-barang yang dinilai minim urgensi.
“Seharusnya beliau belajar dari pengalaman masa lampau lebih mengutamakan fasilitas umum serta tidak memojokkan wakilnya dan memamerkan hartanya. Karena beliau seorang pimpinan Bupati, bukan bos di dunia bisnis,” tutup Muhammad Syariski.
Mardin










