Natuna,Potretnusantara.id – Penipuan Online melalui komunikasi selular terjadi di Kecamatan Subi, kabupaten Natuna, Kepri. Korban inisial T diperkirakan mendapat kerugian mencapai Rp 10 juta. Duit tersebut secara spontan dikirim korban T ke rekening Si Penipu online.
Dirayu dengan hadiah yang fantastis, korban T pun terperdaya di bawah alam sadar pikirnya untuk mengirimkan duit yang diminta si penipu online melalui transfer duit M Banking.
Saat itu,akibat desakan dari penipu online, korban T mendapatkan pinjaman uang sekitar 10 juta tersebut dari berbagi orang yang ia kenal akrab di wilayah kecamatan Subi. T meminta tolong kepada beberapa orang untuk segera meminjamkan uang dengan alasan, dirinya membutuhkan untuk keperluan keluarganya.
Serda Miko Pakpahan, Babinsa Pos Ramil Subi Koramil 06/Serasan,jelaskan, saat itu,Korban T mengengam Selularnya tetap berkomunikasi dengan si penipu. Dari raut wajah T, Serda Miko Pakpahan sudah curiga, dengan sigap, T pun akhirnya disadarkan untuk tidak lagi mengirim duit ke rekening yang menelpon dirinya.
“ Saya bilang kepadanya (korban T) , kamu sudah kena tipu, jangan kirim lagi duit, itu penipu berkedok online” ucap Serda Miko Pakpahan.(19/7)
Atas kejadian tersebut,Serda Miko Pakpahan yang sudah bertugas di Subi sebagai Babinsa mencapai 14 Tahun ini berharap agar warga Subi tidak lagi menjadi korban Penipuan Online, Ia meminta agar segera berkomunikasi dengan Pihak Koramil ataupun pihak Polsek bila ada orang yang meminta di transfer ke rekening atau juga di paksa mengirimkan pulsa.
“ jangan malu, sampaikan saja pada kita, dan segera sampaikan pada yang lain bila nomor penipu tersebut telah mencoba meminta duit dengan modus hadiah” ucap Pakpahan.
” Jangan terhasut dengan iming iming hadiah dan lainnya, itu modus penipu” tambahnya.
Sudah 5 Hari Korban T Melaut Gunakan Pompong 3 GT Tidak Pulang
Serda Miko Pakpahan, saat itu setelah di sadarkan T telah sadar ditipu, ia pun langsung lemas dengan wajahnya masih terlihat pucat. T meminta dirinya untuk pulang kerumah sejenak, namun setelah di tunggu Serda Niko Pakpahan, ternyata Korban T tidak datang ,T berprofesi sehari harinya sebagai nelayan, ternyata langsung melakukan aktifitas memancing di laut dengan mengunakan pompong 3GT milik warga Subi. (Pompongn tersebut biasa di gunakan T saat melaut)
Namun, Pakpahan merasa ada kendala baru, pasalnya, dalam keadaan galau, T nekat turun ke laut untuk memancing. Hal yang sedikit aneh, pakpahan menjelasakan, informasi dia dapat dari pemilik pompong, bahwasannya, kapal pompong tersebut hanya memiliki minyak solar sekira 40-50 liter, bahkan si pemilik kapal pun tidak di beritahu T saat digunakanya untuk ke laut.
” Sudah lima hari dia (korban T)belum pulang,kita berharap dia segera pulang,untuk Masalah hutang bisa di runding. Jangan sampai ada masalah baru timbul” ujarnya.(19/7)
Akan hal ini, Serda pakpahan telah berkordinasi dengan para nelayan asal Subi, bila menemukan T agar di pantau untuk segera pulang. Ia menjelaskan, saat ini keadaan T sangat galau, jangan sampai terjadi hal hal diluar dari kesadaran T yang mengakibatkan kerugian lainya.
Dari informasi, korban T Saat ini berada wilayah Tembelan,pihak nelayan juga berkordinasi agar memastikan T dan kapal pompong yang ia bawa dari Subi untuk di tahan sementara dan memastikan kondisi kesehatan T.
“ Semalam Informasi kikta dapat T sempat mampir di Pulau Panjang (Subi) kemudian dapat kabar juga bahwa pompong tersebut sudah sandar di Tembelan” ujar pakpahan.
Sementara itu, pemilik kapal berharap agar T segera balik ke pelabuhan Subi, untuk masalah hutang akibat penipuan online tersebut dapat di carikan solusinya.
5 Modus Penipuan Online Ini Semakin Marak.
Untuk itulah, kita semua perlu mengenali upaya penipuan online sebelum jadi korban. Pakar keamanan Kaspersky Roman Dedenok pun membagikan lima cara mengenali penipuan online untuk membantu semua pengguna layanan online terhindar dari bahaya
- Menawarkan hadiah menarik hingga rasa takut Para penipu kerap memanfaarkan perasaan kritikal dalam diri manusia. Mulai dari keserakahan hingga rasa takut. Dalam hal ini skema pertama, mereka menjanjikan calon korban hadiah yang luar biasa besar, misalnya tunjangan pemerintah atau cryptocurrency gratis. Skema kedua adalah melibatkan intimidasi, seperti ancaman mengirim video korban yang menonton film porno ke seluruh kontak atau merusak reputasi situs web perusahaan. Dalam kedua kasus ini, pelaku kejahatan siber mencoba memangkas kemampuan korban untuk merespon secara rasional. Oleh karenanya, saat membaca email semacam itu dan ingin melakukan hal yang persis diminta pengirim ancaman (entah itu mengikuti tautan, mengirim uang, menelepon nomor, dan lain-lain) itu sebenarnya adalah tanda peringatan.
- Minta korban buru-buru
Situasi yang melibatkan emosi dapat menyebabkan orang kehilangan daya berpikir kritis. Begitu pula dengan rasa “terburu-buru” yang juga membuat orang kehilangan daya berpikir kritisnya. Scammers mengeksploitasi perasaan tersebut juga, misalnya dengan menetapkan tenggat waktu yang ketat. Jika sebuah pesan mengatakan Anda hanya memiliki beberapa hari, jam, atau bahkan menit untuk mengklaim hadiah atau pembelian barang sebelum terjual habis, sekali lagi, itu mungkin penipuan. - Desain yang amatir
Terkadang para korban juga mungkin diundang untuk membaca ulasan atau komentar (palsu) dari “pemenang sebelumnya”. Baru-baru ini, Kaspersky telah melihat obrolan dengan bot yang menyamar sebagai pengacara, konsultan, atau karyawan pendukung. Terlepas dari detail skenario yang ada, tujuan keseluruhannya sederhana dan jelas: membuat orang tersebut menginvestasikan sedikit waktu dan membuat mereka tetap di halaman. Dengan demikian, semakin banyak investasi yang mereka berikan, semakin kecil kemungkinan mereka untuk menutup halaman saat pembayaran diminta, dan itu pasti akan terjadi. Saat situs web yang menjanjikan tunjangan besar meminta terlalu banyak data konfidensial yang tidak diperlukan, Kaspersky menyarankan Anda untuk segera menutup laman tersebut. - Meminta sedikit biaya di awal
Trik lain setelah menggaet korban adalah meminta sedikit biaya. Para penipu online ini biasanya akan meminta korban mentransfer demi keperluan verifikasi kartu atau pembayaran pendaftaran. Tanpa itu, penipu bersikeras bahwa korban tidak bisa menerima hadiah yang dijanjikan. Jumlah yang diminta biasanya kecil, tidak signifikan, bahkan kerap datang dengan jaminan pengembalian di kemudian hari. Biaya ini adalah hal pertama yang bisa dicuri dari korban. Pada akhirnya tidak akan ada hadiah, hanya kemungkinan kehilangan lebih banyak apabila korban membagikan detail kartu kredit dengan penipu.
Penulis kalit










