Potretnusantara.id, Natuna – Perjuangan guru di daerah terpencil kembali mencuri perhatian. Adalah Nurjanah Susanti, seorang guru kelas di SDN 006 Batu Berian, Kecamatan Serasan, yang harus mempertaruhkan keselamatan demi mengabdi di dunia pendidikan.
Selama hampir dua tahun terakhir, Nurjanah bersama belasan guru lainnya menempuh perjalanan ekstrem setiap hari melewati jembatan kayu darurat sepanjang lebih dari 200 meter yang oleh warga setempat dijuluki “jembatan shirotol mustaqim”.
“Kalau ada alternatif lain, kami pasti tidak akan bertaruh nyawa melewati jembatan ini. Tapi demi anak-anak, kami harus tetap berangkat,” ungkap Nurjanah, Sabtu (20/9/2025).
Ditambahnya, Setelah mengarungi lautan menggunakan pompong (perahu kayu), dirinya harus bertarung lagi melewati jembatan kayu yang sudah sangat tidak layak untuk dilewati, dimana banyak papan yang sudah terlepas. Akan hal itu, para guru harus merangkak melewatinya.
” Saat ada jembatan yang sudah terlepas papanya, kami harus merangkak melewatinya” paparnya.
Guru yang sebelumnya 18 tahun mengajar di SDN 001 Serasan ini mengaku sudah terbiasa hidup sederhana, tetapi kondisi infrastruktur di Batu Berian membuat dirinya sering merasa sedih.
“Kami bukan minta lebih, hanya ingin dimanusiakan. Setidaknya ada perhatian dari pemerintah bagi para guru yang bertugas di daerah terpencil,” tambahnya.
Selain guru, warga Batu Berian yang mayoritas nelayan juga menggunakan jembatan tersebut. Mereka kerap harus melintas saat hari masih gelap, pulang melaut dengan kondisi licin, gelap, dan berisiko jatuh.
“Alhamdulillah sampai sekarang belum ada guru yang celaka, tapi sering barang-barang kami terjatuh ke laut. Kalau hujan dan angin, kami harus pakai jurus kura-kura,” ujarnya.
Terkadang ketiadaan listrik di siang hari dan sinyal komunikasi yang buruk di Desa Batu Berian semakin menambah tantangan. Meski begitu, Nurjanah tetap memilih bertahan.
“Mengajar adalah panggilan jiwa. Anak-anak Batu Berian berhak mendapatkan pendidikan yang sama dengan anak-anak di kota,” tegasnya.
Kini, harapan besar digantungkan pada perhatian pemerintah untuk memperbaiki akses transportasi dan jembatan yang sudah lama berstatus darurat tersebut.
“Kami hanya ingin ada jembatan yang layak, demi keselamatan guru, murid, dan warga,” pungkasnya.(Kalit)










