Potretnusantara.id, Natuna – Di perbatasan negara, kedaulatan bukan hanya dijaga dengan senjata, tapi juga dengan simbol ekonomi: mata uang. Pulau Sepadan, yang dulunya berada dalam pengawasan Indonesia, kini praktis “hilang” secara de facto setelah Ringgit Malaysia menjadi alat tukar utama di pulau tersebut.
Pulau kecil yang terletak di perairan berbatasan langsung dengan Sabah, Malaysia, selama bertahun-tahun mengalami pergeseran kedaulatan secara perlahan. Kurangnya transaksi menggunakan Rupiah, tak ada distribusi uang dari Bank Indonesia, bahkan bendera merah putih pun nyaris tak terlihat.
“Uang yang digunakan warga di sana banyak Ringgit. ,” ungkap Ketua Tim ERB BI Kepri, Sopian Hadi saat memimpin langsung sosialisasi bertajuk “Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah (CBP)” di Pulau Subi, 25 Juli 2025.
Secara administratif, Pulau Sepadan sudah lama menjadi sengketa. Namun, hilangnya pengaruh ekonomi Indonesia mempercepat proses pengaburan batas wilayah. Ketika Rupiah tak lagi beredar, identitas bangsa perlahan menghilang dari ruang publik.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ketidakhadiran simbol negara seperti Rupiah menjadi celah yang dimanfaatkan negara tetangga. Sepadan kini bukan sekadar pulau terluar, melainkan potret kegagalan menjaga kedaulatan ekonomi di perbatasan.
Kondisi seperti inilah yang menjadi dasar pentingnya Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) seperti yang dilakukan Bank Indonesia di Pulau Subi, Natuna. Ketika negara hadir dengan membawa Rupiah, maka simbol kedaulatan ditegakkan, bukan hanya secara hukum tapi juga di hati rakyat.
“Jangan sampai peristiwa Pulau Sepadan terulang di wilayah lain. Kehilangan pulau bukan hanya karena konflik bersenjata, tapi juga karena kita abai pada simbol-simbol negara,” kata Camat Subi, H. Syarifuddin, saat menyambut kedatangan KRI Hasan Basri dalam ERB 2025 di aula Kecamatan Subi,25 Juli 2025.
Pulau Sepadan menjadi pengingat bahwa kedaulatan tidak hanya diukur dari garis batas peta, tapi juga dari apa yang dipakai rakyatnya setiap hari — termasuk uang. Ketika Rupiah tak lagi dipakai, lambang negara perlahan hilang, dan bersamanya, hilang pula identitas bangsa.
Indonesia harus belajar dari kehilangan ini. Negara harus hadir hingga titik paling luar, bukan hanya dengan bangunan atau program, tetapi juga dengan Rupiah sebagai simbol ekonomi dan kebanggaan nasional.
Penulis kalit










