OPINI, Potretnusantara.id – Cerita lama terulang kembali, inilah mungkin kisah yan g sedang hangat saat ini di Kabupaten Karimun. Cerita judi, judi, judi dan judi seolah tidak ada pangkal dan tidak ada ujungnya.
Dua minggu belakangan ini, dampak dari judi dengan berkedok permainan ini kembali muncul dengan kisah kisah yang memilukan. Ada dua remaja harus menanggung derita fisik dan pisikis akibat pemukulan dan penyekapan oleh keamanan permainan.
Kejadian ini sontak mendapat tanggapan beragam, ada yang berpendapat kenapa anak sekolah masuk arena judi?, ada yang berpendapat itu adalah sebuah permainan sehingga semua orang bebas masuk?, ada sebagian berpendapat jika itu permainan mengapa ada utang hingga puluhan juta? dan banyak lagi pendapat pendapat dimasyarakat.
Munculnya persoalan ini menjadikan dampak sosial yang tinggi dimasyarakat, hal ini terbukti mulai munculnya kubu kubuan yang mendukung dan yang membela. Dampak sosial ini tentu tidak baik terjadi di masyarakat hanya karena sebuah “KELALAIAN MAGIG”.
“KELALAIAN MAGIG” ini kita anggap sebuah kejadian yang nyata didepan mata namun dibiarkan terjadi karena adanya putaran magig (misteri) yang dapat membantu hidup dan kebutuhan sehingga kejadian nyata ini seolah olah dianggap lumrah.
Dampak sosial lain juga menjadi patut diperhatikan, masyarakat saat ini cenderung apatis dengan situasi seperti ini. Banyak masyarakat menyimpulkan, dibalik kejadian kejadian seperti ini selalu mempersoalkan pelaku dan korban, sangat jarang mengkaitkan dengan sebab dan akibatnya.
“Ia, kejadian di Karimun ini kalau terkait kegiatan judi hanya Tuhan yang mampu untuk menutupnya, kalau manusia saya berpikir apatis,”ucap salah satu masyarakat dengan tatapan kosongnya.
Pernyataan ini memang jika dianalisa ada kebenarannya, dua pemuda yang diakui melakukan permainan dengan utang hingga puluhan juta dalam satu kali bermain patut dipertanyakan. Sangat sulit diterima nalar manusia bahwa kejadian ini bukan hanya sekedar permainan saja namun sudah mengarah ke perjudian.
Namun anehnya, proses hanya berjalan tentang pelaku dan korban. Tokoh, kelompok dan banyak lagi yang hanya memberikan dukungan terhadap terhadap kejadian ini. Tidak sedikit orang atau kelompok yang berpikir dibalik sebab kejadian tersebut. Jadi wajar bahwa masyarakat berfikir “Hanya Tuhan Yang Mampu Menutupnya”.
Semoga Allah wa ta’ala Tuhan Maha Kuasa mengabulkan doa masyarakat.
red










