Potretnusantara.id, Natuna-
Gerimis tipis membasahi halaman Kantor Kecamatan Subi ketika Bupati Natuna Cen Sui Lan baru saja selesai makan siang setelah perjalanan panjang yang dihantam cuaca ekstrem. Ia berniat mencuci tangan, namun dirinya terkejut saat melihat air keran mengalir berwarna kuning keruh. Seketika raut wajahnya berubah terkejut, prihatin, dan ingin mengetahui apa yang sedang terjadi.
Tanpa menunggu staf atau laporan resmi, Cen langsung keluar dari ruangan, menghampiri Camat Subi,Syarifuddin dan sejumlah warga Subi.
“Kenapa airnya begini?” tanyanya dengan nada heran sekaligus tegas.(29/11)
Padahal hanya beberapa jam sebelumnya, ia dan rombongan menempuh perjalanan laut berat menggunakan Verry Indra Perkasa 159 dari Pulau Serasan,Pulau Panjang dan Puluhan Subi . Namun rasa lelah itu hilang seketika saat melihat fakta bahwa air bersih di Subi tidak berjalan semestinya.
Warga Subi menjelaskan bahwa air rumah tangga masih bersumber dari sumur bor, dan biasanya jernih. Mereka menduga hujan deras yang terjadi belakangan membuat kualitas air berubah.
dari penjelasan masyarakat, Cen Sui Lan mendapat informasi bahasanya
di Subi sebenarnya sudah ada embung air di dekat PLN Subi, tetapi hingga kini belum pernah digunakan.
Pernyataan itu membuat perhatian Cen Sui Lan semakin fokus. Infrastruktur ada, tetapi tidak dimanfaatkan. Membuat Cen Semakin
Gusar akan hal air warna kuning itu.
Cen kemudian menggelar diskusi kecil yang terkesan santai, tenda tempat makan langsung di jadikan tempat pembahasan. Hadir dalam forum itu Wakil Bupati Jarmin Sidik, tokoh masyarakat Subi Baharudin, Ketua TP2D Natuna Hadi Chandra, Raja Mustakim, Staf khusus Bupati,sejumlah OPD. Serta Azman dari Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Kepri .
Dalam diskusi tersebut, tiga isu utama mencuat diantaranya ;
1.kondisi air bersih dan embung yang belum dimanfaatkan,
2.lanjutan pembangunan jalan Teluk Surga sepanjang 18 km,
3.rencana strategis jembatan Subi Besar–Subi Kecil.
Pada kesempatan itu, Cen menegaskan bahwa Desa Subi Kecil merupakan salah satu dari 7 wilayah pulau terluar yang berpenghuni harus mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat.
“Subi Kecil masuk daerah pulau terluar yang berpenghuni setelah Pulau Kepala,Pulau Senoa,Pulau Sekatung,Pulau Sebetul,Pulau Semiun, Pulau Tokong Boro” ucap Cen Sui Lan (28/11)
Dalam cuaca yang tidak mendukung, walaupun hujan gerimis terus turun, Cen memilih untuk tidak menunggu laporan tertulis.Ia berdiri dan berkata tegas
“Mari kita lihat embungnya langsung.”paparnya.
Rombongan pun bergerak menuju embung dekat PLTD Subi. Lumpur menempel, namun langkah mereka tidak surut. Sesampainya di lokasi, Cen turun langsung memeriksa kondisi embung, kapasitas tampungan air, kondisi bangunan, hingga kemungkinan penyalurannya.
Setelah melihat secara nyata, ia mengeluarkan instruksi jelas:
- Embung harus segera diaktifkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Subi.
- Dinas terkait harus menghitung debit air secara akurat untuk memastikan kecukupan.
- Jika debit masih kurang, embung baru harus dibangun di sisi sebelahnya.
Instruksi tersebut diterima oleh Kadis PUPR Agus Supardi, Kabid PUPR Wan Tahriri, Kepala Dinas Perkim Edi Rianto dan OPD Pemda Natuna lainya serta Azman dari BPJN Kepri yang turut menyaksikan langsung kondisi embung. Setelah sebelumnya meninjau kondisi jalan Teluk Surga sejauh 18 kilo meter dan jembatan penghubung Subi besar dan Subi Kecil.
Bagi masyarakat Subi, kehadiran Bupati yang turun langsung meninjau kondisi air bersih di tengah gerimis memberi harapan baru. Peristiwa air kuning itu menjadi pemicu komitmen lebih kuat dari pemerintah daerah untuk memastikan bahwa daerah terluar tidak boleh tertinggal dalam pembangunan.
Cen Sui Lan hari itu memperlihatkan kepemimpinan yang humanis, responsif, dan berorientasi pada keadilan pembangunan. Bahwa Subi meski jauh di perbatasan tetap berada dalam perhatian utama pemerintah (kalit)










