Potretnusantara.id, Natuna – Di tengah dinamika ekonomi nasional dan tekanan fiskal daerah, Pemerintah Kabupaten Natuna mengambil langkah berani: membenahi fondasi keuangan daerah demi menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Bupati Natuna, Cen Sui Lan, menegaskan bahwa penguatan fiskal bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan strategi jangka panjang untuk mengubah struktur ekonomi Natuna agar tidak lagi bergantung pada sektor minyak dan gas.
“Kita ingin memastikan ekonomi Natuna tumbuh sehat dan berkelanjutan. Fondasinya harus dimulai dari fiskal daerah yang kuat,” ujarnya, Jumat (13/3/2026).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan ekonomi Natuna tahun 2025 mencapai 10,49 persen jika sektor migas dihitung. Angka ini menempatkan Natuna sebagai salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi tinggi.
Namun realitas berbeda terlihat ketika sektor migas dikeluarkan dari perhitungan. Ekonomi Natuna justru mengalami kontraksi sebesar 1,61 persen, menandakan struktur ekonomi daerah masih sangat bergantung pada eksplorasi dan produksi migas.
Situasi ini menjadi alarm sekaligus momentum bagi pemerintah daerah untuk mempercepat diversifikasi ekonomi.
Warisan Beban Fiskal Rp187 Miliar Mulai Dituntaskan
Salah satu langkah nyata yang dilakukan Pemkab Natuna adalah menyelesaikan kewajiban utang kepada pihak ketiga sebesar Rp187 miliar, dampak kebijakan efisiensi anggaran tahun 2024.
Hingga kini, sekitar Rp150 miliar telah berhasil diselesaikan, sementara sisa Rp37 miliar ditargetkan rampung pada 2026.
Menurut Cen Sui Lan, penyelesaian utang bukan hanya soal administrasi keuangan, tetapi upaya memulihkan kepercayaan dunia usaha sekaligus membuka ruang fiskal baru bagi pembangunan.
“Ketika fiskal sehat, pemerintah punya ruang lebih luas untuk mendorong investasi dan pembangunan ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Kebijakan penataan fiskal turut berdampak pada sektor konstruksi yang mengalami kontraksi cukup dalam pada 2025 akibat berkurangnya belanja modal pemerintah daerah.
Meski demikian, langkah tersebut dinilai sebagai fase konsolidasi yang diperlukan sebelum memasuki tahap akselerasi pembangunan berikutnya.
Pemerintah daerah memilih stabilitas keuangan sebagai prioritas agar pembangunan ke depan berjalan lebih terukur dan berkelanjutan.
Selain migas, sektor perikanan tetap menjadi kekuatan utama ekonomi Natuna dengan kontribusi sekitar 30 persen terhadap PDRB.
Namun pada 2025, produksi perikanan tangkap menurun menjadi sekitar 72 ribu ton, jauh dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 136 ribu ton. Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Ke depan, Pemkab Natuna akan
memperkuat sektor nonmigas melalui:
peningkatan sarana dan prasarana perikanan,optimalisasi program strategis nasional,penguatan belanja pemerintah yang produktif,serta kebijakan ekonomi berbasis potensi lokal.
Bupati Cen Sui Lan optimistis langkah penataan fiskal saat ini akan menjadi titik balik transformasi ekonomi Natuna. Pemerintah menargetkan struktur ekonomi yang lebih seimbang antara migas dan sektor riil masyarakat.
Dengan fiskal yang semakin sehat, Natuna diharapkan mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga kuat, inklusif, dan tahan terhadap gejolak global.
“Tujuan akhirnya adalah kesejahteraan masyarakat. Ekonomi harus tumbuh, tapi juga harus berkelanjutan,” tutupnya.(Kalit)









