Potretnusantara.id,Natuna – Kejaksaan Negeri (Kejari) Natuna terus memperkuat langkah antisipatif terhadap potensi gangguan kerukunan umat beragama dan keamanan daerah. Melalui Seksi Intelijen, Kejari Natuna menggelar Rapat Koordinasi Tim Pengawasan Aliran Kepercayaan dan Aliran Keagamaan dalam Masyarakat (PAKEM) ke-3 Tahun 2025, Rabu (12/11), di Aula Kejari Natuna, Jalan Pramuka, Batu Hitam, Kecamatan Bunguran Timur.
Rapat dipimpin langsung oleh Kepala Kejaksaan Negeri Natuna, Dr. Erwin Indrapraja, S.H., M.H., dan dihadiri oleh perwakilan lintas instansi, di antaranya Asisten I Pemkab Natuna, Bakesbangpol, Kemenag, TNI, Polri, BIN, BAIS, MUI, FKUB, serta para tokoh agama Islam, Kristen, Katolik, dan Konghucu.
Dalam arahannya, Dr. Erwin menegaskan bahwa kondisi Natuna yang terlihat aman bukan berarti tanpa potensi kerawanan.
“Ketenangan bukan berarti kita boleh abai. Tim PAKEM harus aktif melakukan pemantauan lapangan dan menjaga komunikasi lintas instansi. Pendekatan yang humanis, persuasif, dan berbasis data sangat penting agar stabilitas daerah tetap terjaga,” ujar Kajari Natuna.(12/11/2025)
Menurutnya, sinergi seluruh elemen sangat dibutuhkan untuk memperkuat deteksi dini dan pencegahan dini terhadap munculnya aliran kepercayaan atau paham keagamaan yang berpotensi mengganggu ketertiban umum.
Rapat dipandu oleh Kasi Intelijen Kejari Natuna, Tulus Yunus Abdi Negara, S.H., M.H., yang menjelaskan dasar hukum pembentukan Tim PAKEM berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 2021 tentang Kejaksaan RI, PNPS Nomor 1 Tahun 1965, dan Peraturan Jaksa Agung RI Nomor 5 Tahun 2019.
Tim PAKEM Natuna juga memaparkan hasil pemantauan terhadap perkembangan aliran kepercayaan dan keagamaan di wilayah Natuna. Hasilnya, hingga saat ini kondisi daerah dinyatakan kondusif dan terkendali.
Rapat yang berlangsung hingga pukul 11.04 WIB berjalan tertib dan lancar. Kejari Natuna menegaskan akan terus memperkuat fungsi koordinatif antarinstansi dalam menjaga kerukunan, toleransi, dan keamanan masyarakat Natuna.
“Kami berkomitmen menjalankan fungsi deteksi dan pencegahan dini secara maksimal. Kolaborasi antar lembaga menjadi kunci untuk menjaga Natuna tetap damai dan harmonis,” tutup Dr. Erwin.(Kalit)










