ASAHAN, Potretnusantara.id- Tugas utama Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) adalah memimpin rapat, mengkoordinasikan kegiatan BPD, dan memastikan kelancaran pelaksanaan tugas BPD. Selain itu, Ketua BPD juga berperan dalam menyalurkan aspirasi masyarakat, membahas rancangan Peraturan Desa, melakukan pengawasan terhadap kinerja Kepala Desa, dan menciptakan hubungan kerja yang harmonis dengan Pemdes dan lembaga desa lainnya.
Berbeda dengan MH oknum ketua BPD Desa Perkebunan Padang Pulau, Kecamatan Bandar Pulau, meskipun dia sudah pengsiun dari kebun dan pindah tempat tinggal tetapi masih tetap menjabat ketua BPD.
“Sejak pensiun dari karyawan PT. Socfindo Perk Padang Pulau sekitar dua tahun lalu MH sudah pindah tempat tinggal, rumahnya sekarang dekat kantor Desa Perk Bandar Selamat. Meskipun sudah pindah domisili ke desa lain MH masih saja dipertahankan sebagai ketua BPD, apakah karena MH keluarga dekat Suriani”, kata warga setempat yang tidak mau disebut namanya, Kamis (24/4).
Kepala Desa Perk Padang Pulau Suriani yang ingin dikonfirmasi di kantornya, beberapa waktu lalu terkait oknum ketua BPD yang sudah pindah domisili tersebut tidak berada di tempat.
“Kades Bintek di Medan”, kata Edi Sujarwo ketua LPM Desa Perk. Padang Pulau yang juga karyawan PT. Socfindo Perkebunan Padang Pulau.
Sementara itu salah seorang tokoh pemuda di Kecamatan Bandar Pulau Amri Simanjuntak angkat bicara, jika ada anggota BPD yang pindah domisili atau tidak lagi bertempat tinggal di desa tersebut langkah yang harus dilakukan seluruh pengurus BPD segera melakukan masyarakat pergantian antar waktu sekaligus menentukan atau melakukan pemilihan ketua yang baru.
“Jika ketua BPD yang pindah, sekaligus dilakukan PAW dan pemilihan ketua BPD yang baru. Itulah langkah yang harus dilakukan agar pemerintahan desa dapat berjalan dengan maksimal”, ujar Amri.
Secara terpisah warga berharap kepada Dinas terkait dan Bupati Asahan Taufik Zainal Abidin dan Wakil Bupati Rianto agar mengevaluasi kembali oknum anggota BPD yang juga oknum Kades Perk. Padang Pulau yang jarang nampak di desa itu, sehingga warganya seperti ayam kehilangan induk (Paimin)










