Potretnusantara.id, Natuna – Puluhan keramba jaring apung di Pulau Subi berdiri diam, Ikan kerapu tiger dan napoleon yang selama ini menjadi primadona ekspor ke Hong Kong kini justru menjadi beban hidup. Sudah lebih dari enam bulan, kapal pengangkut dari Hong Kong tak lagi muncul di perairan Natuna, khususnya di wilayah Sedanau, yang selama ini menjadi jalur utama distribusi ikan hidup Subi dan wilayah lainya.
“Biasanya ada kapal datang tiap bulan. Sekarang hilang begitu saja. Tak ada kabar, tak ada informasi,” keluh Adi, salah satu pembudidaya ikan di Subi, yang kini terjebak dalam ketidakpastian.27 Juli 2025.
Meski tak bisa dijual, ikan-ikan bernilai jutaan rupiah per ekor itu tak bisa ditinggal begitu saja. Mereka tetap harus diberi makan, dirawat, bahkan dimandikan secara berkala agar tetap sehat dan layak ekspor.
Pembudidaya seperti Adi harus merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli 100 kilogram ikan tamban seharga Rp5.000–Rp7.000 per kilo, hanya demi menjaga kelangsungan hidup ikan-ikan itu.
“habis setengah juta lebih hanya untuk makan ikan. Belum lagi harus bersihkan jamur di kulit mereka. Kalau satu saja mati, kami rugi besar,” kata Adi dengan wajah lelah.
Kondisi ini berdampak langsung pada kehidupan keluarga nelayan. Di tengah tahun ajaran baru, banyak orang tua kebingungan mencari biaya pendidikan. Bukan hanya soal seragam atau buku, tapi soal makan pun kini harus dihitung cermat.
Vero, seorang penggiat sektor perikanan di Subi, menyebut kondisi saat ini bagi para nelayan budidaya tidak baik baik saja. Menurutnya, tidak ada kepastian yang jelas untuk penjualan ikan ikan kerapuh.
“Kondisi budidaya ikan kerapu tiger dan napoleon di Subi saat ini benar-benar memprihatinkan. Ratusan ekor ikan bernilai tinggi yang biasanya diekspor ke Hong Kong kini hanya bisa menunggu nasib di keramba. Tidak ada kepastian pasar, .” Ucap Vero,27 Juli 2025
Tidak ada kejelasan dari pihak pelayaran maupun pemerintah kapan kapal Hong Kong akan kembali beroperasi. Para nelayan pun kini hanya bisa menunggu dalam ketidakpastian, sembari berharap ada solusi nyata dari pemerintah.
“Kalau tidak bisa ekspor lewat Hong Kong, mungkin pemerintah bisa carikan jalur lain. Kami butuh pasar. Kami butuh kejelasan,” kata Vero
Penulis kalit










