MAKASSAR, Potretnusantara.id-IWO Sulsel mendapat pengaduan dari masyarakat bahwa Faedah, janda tua berumur 58 tahun salah satu warga di Jalan Andi Tadde Lr 6, Kelurahan Timungan Lompoa, Kecamatan Bontoala, Kota Makassar belum pernah mendapatkan bantuan pasca wabah covid-19. Tidak itu saja, Faedah yang kini hidup sebatang kara juga tidak pernah terdaftar untuk program pemerintah seperti seperti Program Keluarga Harapan (PKH), program BPJS ataupun program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di kota Makassar.
Hal ini dibenarkan Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Sulsel, Zulkifli Thahir, dikatakannya sejak membuka nomor hotline aduan bansos covid-19 sebagai bentuk komitmen bersama KPK RI mengawal pengelolaan bansos covid-19, pihaknya telah banyak dihubungi oleh warga agar warga yang mengadu dapat didaftarkan.

“Banyak yang mengadu belum mendapatkan bantuan pasca covid-19, bahkan tidak sedikit yang mengaku belum terdaftar,”kata Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Sulsel, Zulkifli Thahir, Kamis (30/4)
Dia menambahkan, untuk akurasi data dari pengaduan tersebut, pihaknya langsung menemui warga yang mengadu selanjutnya diteruskan laporan ke KPK RI. Hal ini dilakukan sebagai komitmen IWO bersama KPK mengawal pengelolaan bansos covid-19 yang rawan di korupsi.
“Seperti ibu Faedah ini, dia tinggal sebatang kara yang bekerja sebagai tukang urut dengan penghasilan 100 hingga 200 ribu setiap bulannya mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan. Bahkan mirisnya tidak terdaftar juga sebagai PKH, BPJS atau BPNT,”katanya
Dia berpesan, bagi warga ataupun lembaga yang menemukan indikasi penyimpangan penyaluran maupun pengelolaan bansos covid-19 baik itu berasal dari pemerintah maupun swasta segera menghubungi hotline mobile pengaduan bansos covid-19 IWO Sulsel (085255580070 – +62 811-4442-888 – 08114094007)
Sementara itu, Faedah Wanita kelahiran 1962 itu mengaku hingga saat ini, belum satupun program pemerintah untuk orang miskin yang menyentuhnya, seperti program keluarga harapan (PKH), program BPJS, program BPNT, maupun program pemerintah yang digunakan untuk menangani masyarakat akibat dampak virus Covid 19.

Faedah menceritakan, sejak puluhan tahun silam bercerai dengan suaminya, kondisi kemiskinan memaksa Faedah untuk bertahan hidup dengan mengandalkan keahliannya sebagai tukang urut dimana penghasilannya berkisar Rp 100 hingga Rp 200 ribu setiap bulannya. Kehidupannya juga selama ini sering mendapat belas kasihan dari para tetangganya, namun dengan wabah corona bantuan tersebut semakin jarang.
“Pemerintah tidak pernah datang mendata ataupun memberi bantuan kepada saya, mungkin karena tidak ada dekkengku,”kata Faedah.
Pantauan dilapangan, kondisi tempat tinggal Faedah sangat memprihatinkan. Gubuk tempat tinggalnya terlihat sangat kumuh dengan segala peratannya tertumpuk dalam ruangan. Faedah berharap bisa terdaftar menjadi salah satu penerima bantuan pada program pemerintah terhadap orang miskin.
ernis/rilis iwo



Discussion about this post