KARIMUN, Potretnusantara.id – Ketua PHRI Karimun, Khaidir keluhkan keadaan hotel dan restoran akibat imbas COVID – 19 yang saat ini melanda dunia.
Berdasarkan data yang diketahui sampai saat ini, jumlah hotel yang masih beroperasi menurun hingga dibawah 10 persen.
Khaidir mengaku sampai saat ini belum ada data perubahan untuk tingkat hunian hotel di Karimun, malah saat ini semakin menurun. Diketahui sudah sebanyak 15 hotel berbintang maupun non bintang yang tutup.
“Wilayah kita berada di pesisir kepulauan, dampak pandemi ini berpengaruh sekali karena Wisman kita mayoritas berasal dari negara tetangga,” kata Khaidir saat di wawancara di Kantor Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Cabang Karimun, Senin (7/9).
Khaidir mengatakan semenjak Malaysia melakukan lockdown, mulai banyak hotel yang tutup. Khususnya kepada hotel non bintang yang menerima tamu dari Batam dan sekitarnya. Pasalnya, terjadi ketika warga Batam yang ingin menginap dan membuat takut penduduk hotel.
“Sebelumnya kantor kita ada di Jalan Nusantara, Karena untuk membantu biaya saat ini, Saya satukan menjadi hotel. Kalau sampai PHRI ini tutup, mau kemana lagi pelayanan untuk hotel dan restoran di Karimun,” ujar Khaidir
“Apalagi ada media yang meliput terlalu jauh hingga menyebutkan nama hotel itu, berdampak besar kepada hotel tersebut,”lanjutnya
Saat ini, Khaidir telah mengajukan ke PLN mengenai pembebasan biaya beban untuk hotel yang memang menanggung beban listrik yang besar, terutama hotel yang berbintang bisa dikenakan beban sampai puluhan juta.
“Oleh karena itu, kami meminta kepada pusat supaya dibebaskan beban biaya itu, tapi nampaknya dimasing masing cabang belum ada pull up. sementara sudah ada surat edarannya, yang penting kita sudah ajukan,” harap Khaidir
Menurutnya, walaupun saat ini sudah New Normal, dampaknya masih sulit terhadap keadaan perhotelan di Karimun, Karena walaupun ada hotel yang sudah buka masih banyak karyawan hotel yang dirumahkan.
Khaidir mengungkapkan penurunan memang sudah terjadi semenjak Perseroan Terbatas (PT) Saipem tutup karena mayoritas pekerja luar negara dari perusahaan tersebut yang menjadikan hotel sebagai tempat penginapan. Namun, karena ditambah dampak pandemi saat ini jumlah hotel yang masih beroperasi sudah tidak dapat dihitung lagi.
sonithayolla










Discussion about this post