Potretnusantara.id, Natuna –Di tengah gemuruh pembangunan dan janji pemerataan infrastruktur, warga Desa Sedanau Timur, Kecamatan Bunguran Batubi, justru bergelut dengan kenyataan pahit: krisis air bersih yang sudah berlangsung selama lebih dari lima tahun.
Sedikitnya 100 Kepala Keluarga (KK) di wilayah tersebut masih harus berjibaku setiap hari untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Bahkan, sebanyak 50 KK hanya mengandalkan satu sumur tradisional yang jaraknya mencapai 200 meter dari pemukiman.
Samsudin, Kepala RW 02 Dusun Sebauk, mengungkapkan bahwa saat musim kemarau tiba, situasi menjadi jauh lebih memprihatinkan. Tak ada pilihan lain, warga harus naik ke gunung untuk mencari sumber air alternatif.
“Kalau sudah kemarau panjang, kami terpaksa ambil air ke gunung. Pakai motor, pakai Tosa. Kadang jalan kaki. Semua demi bisa masak dan mandi,” ujar Samsudin.
Ia menambahkan, meskipun desa memiliki jaringan perpipaan, namun sejak lima tahun terakhir air PDAM tak lagi mengalir ke rumah-rumah warga.
Warga berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah, terutama untuk membangun sistem distribusi air bersih yang berfungsi optimal dan berkelanjutan.
Di tengah kekayaan alam Natuna, kisah Desa Sedanau Timur menjadi pengingat bahwa masih ada banyak wilayah terpencil yang belum tersentuh layanan dasar seperti air bersih. Krisis ini bukan hanya soal logistik, tapi juga soal keadilan dan hak hidup layak.
Warga hanya ingin satu hal: akses air bersih yang lancar, tanpa harus memikul jerigen dari kaki gunung.
Penulis kalit









