Potretnusantara.id,Natuna – Suasana berbeda terasa di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Natuna, Kamis (12/6/2025) pagi. Anak-anak berkebutuhan khusus tampak antusias menyambut tamu berbaju cokelat. Bukan hari biasa, pagi itu ada rombongan dari Polres Natuna yang datang bukan untuk bertugas, tapi berbagi senyum dan kehangatan.
Dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-79, Polres Natuna menggelar bakti sosial bertajuk kunjungan kasih ke SLB Negeri Natuna. Bertempat di Jalan Sihotang, Ranai, Kecamatan Bunguran Timur, kegiatan ini berlangsung sejak pukul 09.00 WIB dan dipenuhi canda tawa.
“Kami datang untuk bersilaturahmi dan memberikan tali asih kepada para guru dan siswa, sebagai wujud kepedulian kami dalam momentum Hari Bhayangkara ke-79,” ujar Kapolres Natuna AKBP Novyan Aries Efendie, S.H., S.I.K., M.M., M.Tr.Opsla, saat memberi sambutan.
Turut hadir mendampingi Kapolres, Wakapolres Kompol Paten Tarigan, S.H., para pejabat utama Polres, Bhayangkari Cabang Natuna, serta personel lainnya. Di sisi lain, 17 guru dan 34 siswa SLB tampak sumringah sepanjang acara.
Kapolres perhatikan sekolah SLB dan para murid serta bagikan camilan
Usai sambutan, Kapolres beserta rombongan berkeliling meninjau lingkungan sekolah yang bersahaja namun penuh semangat. Tak hanya datang membawa salam, mereka juga membawa oleh-oleh.
Sebanyak 60 paket makanan ringan dibagikan kepada siswa — berisi susu, ciki, wafer, dan jajanan khas yang disukai anak-anak. Suara bungkus plastik dibuka bersahutan dengan tawa kecil yang tak bisa ditahan.
“Anak-anak senang sekali, apalagi saat mereka dapat camilan. Buat kami, ini bukan soal besar kecilnya pemberian, tapi perhatian yang tulus,” kata Ibu Wati, salah satu guru yang sudah mengajar di SLB itu selama 11 tahun.
Polres Natuna juga menyerahkan tali asih kepada para guru sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka dalam mendampingi anak-anak istimewa.
Mendengar yang Tak Bersuara
Kunjungan ini bukan sekadar seremoni. Kapolres dan jajarannya juga duduk bersama para guru, mendengarkan langsung kebutuhan dan harapan mereka — mulai dari fasilitas sekolah hingga perhatian lebih terhadap pendidikan inklusif di daerah.
“Kami ingin hadir bukan hanya saat ada masalah, tapi juga dalam kebahagiaan kecil seperti ini. Sekolah ini luar biasa. Anak-anak di sini luar biasa,” tutup AKBP Novyan.
Pukul 09.50 WIB, kegiatan ditutup dalam suasana haru yang hangat. Tak ada perpisahan yang benar-benar berat — karena pertemuan berikutnya sudah dinanti sejak sekarang.
Penulis kalit










