KARIMUN, Potretnusantara.id – Pembukaan keran ekspor pasir laut oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2023 tentang Pengelolaan Hasil Sedimentasi di Laut mendapat dukungan dari Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Karimun.
Hal ini disampaikan langsung oleh Ketua DPC HNSI Kabupaten Karimun, Abdul Latif, ia menyebutkan Pemerintah sebelumnya melarang ekspor pasir laut sejak 2003, namun saat ini Presiden RI Joko Widodo mengizinkan pembukaan ekspor dengan dalih pembersihan sedimentasi di laut. Pasir yang dihasilkan dari proses tersebut bisa dijual ke luar negeri, dengan syarat kebutuhan dalam negeri sudah terpenuhi.
“Pada prinsipnya saya setuju sebab pasir laut kita berbeda dengan pasir laut yang ada di pulau Jawa dan memang sejak awal HNSI Karimun juga mendukung industri pasir laut itu,” ujar Latif kepada media Potretnusantara.id. Jumat (4/10/24).
Latif beralasan, bahwa HNSI Karimun mendukung sedimentasi karena di laut Karimun terdapat banyaknya beting-beting, pasir bersih dan bukan lumpur.
“Coba kita lihat sekarang ini sudah banyak terjadi pendangkalan, kalau air surut kelihatan pasir bersih artinya tidak ada lumpur dan itu pasir murni,” jelasnya.
Lebih lanjut Latif mengatakan bahwa sedimentasi itu adalah mengambil lumpur-lumpur untuk membersihkan laut.
“Itu memang harus diambil agar laut kita dalam kembali,” ungkapnya.
Latif berharap sedimen ini secepatnya dapat berjalan agar laut tersebut dapat digunakan secara maksimal oleh para nelayan.
“Orang banyak tidak paham tentang pasir laut itu. Pasir laut ini tidak akan pernah habis, dia akan datang terus karena kiriman dari pulau Sumatera dan lainnya. Jadi, bakal numpuk terus dan kalau tidak diambil laut kita ini akan dangkal,” imbuhnya.
Dalam kesempatan itu, Ia juga menyebutkan bahwa sedimentasi ini sudah diatur dalam peraturan pemerintah dan diizinkan.
“Kita mau melarang apa kekuatan kita, lebih baik kita setuju tapi ada manfaat untuk masyarakat daripada kita biarkan orang lain yang mencurinya”. katanya. (Ery).
Editor : Din









