MEDAN, Potret Nusantara – Era masa pandemi Covid 19 saat ini, Anggota Komisi II DPRD Medan Johannes Hutagalung menyoroti pengalokasian anggaran sekitar Rp 7 Miliar di APBD Pemko Medan 2021 untuk pengadaan baju seragam dan sepatu bagi siswa SD dan SMP
Johannes Hutagalung mempertanyakan hal itu saat pembahasan P APBD TA 2021 Pemko Medan bersama Dinas Pendidikan Kota Medan, di ruang Komisi II Gedung DPRD Medan hari ini, Senin (27/9/2021).
Anggota DPRD Medan itu lebih lanjut mempertanyakan, “Apakah identik urgensi pengalokasian anggaran itu dan realisasi sistem pendistribusiannya di lapangan, karena dikhawatirkan nantinya penyaluran tidak tepat sasaran akan menimbulkan kecemburuan sosial,” tuturnya.
Dalam Rapat Pembahasan P APBD Tahun 2021 itu dipimpin Ketua Komisi II Surianto didampingi Wakil Ketua Sudari, Sekretaris Dhiyaul Hayati, sejumlah Anggota Komisi, serta Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan Adlan.
Johannes, juga mempertanyakan, “Jumlah data warga miskin yang mendapat bantuan baju seragam dan sepatu itu sudah mencover seluruh siswa miskin di Kota Medan,” tuturnya lagi.
“Seharusnya Dinas Pendidikan (Disdik) Medan harus jujur, transparan dan akuntabel ada berapa siswa yang sudah dapat baju seragam dan sepatu serta berapa yang belum, semuanya harus jelas sehingga benar-benar dirasakan dan tepat sasaran,” tutur Johannes.
Guna tepat sasaran maka Johannes Hutagalung menyebutkan, “Saya akan mengawal bantuan itu agar tepat sasaran guna dapat mencegah untuk tidak menjadi ajang manfaat mencari keuntungan pribadi atau golongan.
Sementara menjawab sorotan anggota dewan, Kepala Dinas Pendidikan kota Medan Adlan melalui stafnya Ilhama menyampaikan, “Untuk Tahun 2021 pihaknya akan mengalokasikan anggaran baju seragam sekolah untuk SD dan SMP sekitar Rp 7 Miliar,” tuturnya.
Dijelaskan Adlan bahwa, “Anggaran itu diperuntukkan pengadaan baju seragam untuk siswa miskin dengan kriteria siswa penerima harus memiliki surat miskin dari Lurah yang dikordinir Kepala sekolah sesuai dengan kuota yang ditetapkan nantinya,” imbuh Adlan mengakhiri.
Nurlince Hutabarat










